Setiap kali ingin menghilangkan stress, Rasti ngidam makan es krim. Biasanya dia membeli es krim vanila dengan topping coklat dengan hazelnut. Biasanya tiga scoop, kadang memesan dua kali. Dia tidak peduli dengan berapa kalori yang dikonsumsinya. Untung saja dia Gemini yang biasanya beruntung memiliki badan yang jarang bermasalah. Berat badannya mungkin bertambah, tapi sedikit sekali, setiap makan kuliner yang dihindari kala wanita diet.
Sebagai penggemar es krim itu pula dia mengenal sebuah toko roti yang berada di salah satu kompleks pertokoan. Toko itu menempati sebuah ruangan mungil dengan kaca transparan yang memajang roti-roti penggugah selera serta gambar-gambar yang menempel memperlihatkan apa saja yang bisa diperoleh dari sana. Roti, cake, coklat, es krim, yoghurt, dan yang manis-manis lainnya, seperti permen. Menitikkan air liur pun tak cukup jika tak membeli. Harganya tak terlalu mahal karena lokasinya memang bukan wilayah elit.
Saat kita memasuki toko, pintu dibuka tanpa memerlukan tenaga yang besar. Gemerincing bel yang tergantung di atas pintu akan memberitahu pelayan di toko mengenai kedatangan kita. Sapaan hangat dari pelayan, senyuman penuh, akan memberi kita pada suasana pelayanan ekstra, sesuatu yang sewajibnya juga dimiliki layanan pemerintah. Pelayan akan bertanya apa yang kita butuhkan, memberi saran-saran dan dengan sabar menanti apa pun pilihan kita. Permintaan pun dilaksanakan dalam waktu yang tak perlu menunggu lama. Menunggu pun tak masalah, karena wangi semerbak roti dan kue menguar kemana-mana di sana. Membuat kita betah berlama-lama.
Toko Roti Paradissa. Dimiliki seorang yang masih muda. Dia mewarisi toko itu dari sang kakek. Dan pengelolaannya semakin prima karena pria itu memang sangat mencintai apa yang dilakukannya. Bahkan tak jarang dia mempunyai jadwal shift sendiri. Dia menjadi pelayan bagi tokonya.
Suatu kali, dia bertemu dengan takdir hidupnya saat dia sedang melayani.
“BISA kan kamu nggak marah-marah terus?”
Mata Rasti langsung membesar setelah mendengar kata-kata yang terlontar dari pacarnya. Mulutnya merapat dan melebar menjadi senyuman. Sinis. Salah satu ujungnya lebih tinggi daripada yang lain. Kemudian dia tertawa.
“Apa aku nggak punya alasan kuat buat marah?” balasnya dengan teriakan tak kalah kuat.
Dani, pria dihadapan Rasti, benci sekali jika harus menghadapi cewek yang berani padanya. Baginya sosok wanita itu harus tunduk. Marah boleh, tapi jangan melawan dia. Ingin rasanya Dani menghapus senyuman itu.
Apalagi setelah Rasti melakukan hal yang sangat buruk. Dia menampar seorang perempuan yang telah menghina dirinya. Rasti lebih kesal karena cewek itu mengaku sebagai pacar Dani pula.
“Kamu cewek tapi kasar!” desis Dani.
Suasana di mobil itu menjadi panas meski AC mobil tak henti memberi nuansa dingin.
“Dan kamu cowok bajingan yang sama banjingannya dengan cewek itu. Tukang selingkuh!”
“Udah dibilang jangan menuduh sembarangan.”
Kini Rasti membuka mulutnya. Mengangga. Dia benar tak habis pikir kenapa bisa jadi pacar cowok ini. Dani ahli sekali memutarbalikkan fakta dan membuat dia sebagai korban. Hebat!
“Aku udah lihat dengan mata kepalaku sendiri dodol! Kalian pelukan itu apa? Ganti cara salaman? Mesra amat!”
“Dear, please….,” sekarang kayaknya Dani melancarkan senjata lain. “Setiap kali kamu berbicara seperti itu kayaknya aku udah lakuin hal buruk banget. Ayolah…, Kami Cuma teman. She need a hug to make her feel better. Dia baru aja kemalangan…”
“Nice reason, Dan. Kamu juga ngasi kesempatan buat dirimu untuk menikmati. Aku tahu itu.”
Keduanya saling menatap. Menilai dalam pikiran masing masing petimbangan apa yang akan mereka lakukan. Pilihan menjadi dilema saat diri merasa benci tapi juga sayang, dalam waktu bersamaan.
Hanya logika bahwa kancil pun tak mau jatuh untuk yang ketiga kali menjalar di otak Rasti. Dia lelah. Tak hanya kali ini saja Dani tertangkap basah sedang bermesraan dengan cewek lain. Belum lagi gosip sana sini dari teman-temannya yang sempat tanpa sengaja melihat Dani menggandeng cewek lain.
Dasar playboy, hati cewek dia kira apa? Mainan?
“Aku udah selesai marahnya.”
Secercah senyum menyeruak di wajah Dani. Dia hendak memberi pelukan pada Rasti. Tuh, kan, cowok itu “ramah” banget, rajin menjamah!!
“Aku juga udah selesai berhubungan sama kamu, Dan.”
Oke, Rasti merasa dia masih kelas dua SMA. Duduk bersebelahan dan bilang kalau mereka putus, dengan kosakata yang disesuaikan.
“Dearest…, jangan coba—…” Dani ingin meraih tengkuk Rasti, tapi cewek itu menepis tangannya.
Rasti menggeleng. “Aku nggak mau lagi main-main. Aku udah nggak remaja lagi untuk lakuin hal-hal yang nggak ada gunanya, hanya biar kamu nggak melirik cewek lain. Komitmen, Dan. Itu yang kamu belum pelajari.”
“Aku bilang kamu nggak punya hak buat mutusin kita secara sepihak.”
“Ya, aku bisa. Aku nggak selemah yang kamu bayangkan. Aku juga baru tahu dari teman lamamu apa yang kamu lakukan pada mantan-mantanmu. Kamu cepat melupakan mereka. Aku harap kamu bisa melupakan aku dalam hitungan hari… atau mungkin detik.”
Rasti mengambil tas kerjanya, kemudian keluar dari mobil yang menyesakkan dadanya itu.
Tak lama, jendela pintu mobil terbuka.
“Kamu bakal menyesal, Rasti.”
Rasti tersenyum. “Mungkin. Tapi aku nyaranin aja, Dan. Kamu memang menarik dan bisa dapetin cewek mana saja. Tapi kami para cewek bisa belajar bahwa indahnya rupamu tidak menjamin hatimu juga baik. Aku nggak tahu sampai kapan kamu bakal mempermainkan hati para wanita… aku harap kamu jera suatu saat nanti.”
Rasti melangkah ke trotoar, di sana dia menghentikan sebuah taksi dan pergi pulang.
Dibelakangnya dia sempat mendengar Dani meneriaki dia dengan kata-kata yang sangat merendahkan kaum perempuan.
Hati Rasti teriris.
Sebagai penggemar es krim itu pula dia mengenal sebuah toko roti yang berada di salah satu kompleks pertokoan. Toko itu menempati sebuah ruangan mungil dengan kaca transparan yang memajang roti-roti penggugah selera serta gambar-gambar yang menempel memperlihatkan apa saja yang bisa diperoleh dari sana. Roti, cake, coklat, es krim, yoghurt, dan yang manis-manis lainnya, seperti permen. Menitikkan air liur pun tak cukup jika tak membeli. Harganya tak terlalu mahal karena lokasinya memang bukan wilayah elit.
Saat kita memasuki toko, pintu dibuka tanpa memerlukan tenaga yang besar. Gemerincing bel yang tergantung di atas pintu akan memberitahu pelayan di toko mengenai kedatangan kita. Sapaan hangat dari pelayan, senyuman penuh, akan memberi kita pada suasana pelayanan ekstra, sesuatu yang sewajibnya juga dimiliki layanan pemerintah. Pelayan akan bertanya apa yang kita butuhkan, memberi saran-saran dan dengan sabar menanti apa pun pilihan kita. Permintaan pun dilaksanakan dalam waktu yang tak perlu menunggu lama. Menunggu pun tak masalah, karena wangi semerbak roti dan kue menguar kemana-mana di sana. Membuat kita betah berlama-lama.
Toko Roti Paradissa. Dimiliki seorang yang masih muda. Dia mewarisi toko itu dari sang kakek. Dan pengelolaannya semakin prima karena pria itu memang sangat mencintai apa yang dilakukannya. Bahkan tak jarang dia mempunyai jadwal shift sendiri. Dia menjadi pelayan bagi tokonya.
Suatu kali, dia bertemu dengan takdir hidupnya saat dia sedang melayani.
“BISA kan kamu nggak marah-marah terus?”
Mata Rasti langsung membesar setelah mendengar kata-kata yang terlontar dari pacarnya. Mulutnya merapat dan melebar menjadi senyuman. Sinis. Salah satu ujungnya lebih tinggi daripada yang lain. Kemudian dia tertawa.
“Apa aku nggak punya alasan kuat buat marah?” balasnya dengan teriakan tak kalah kuat.
Dani, pria dihadapan Rasti, benci sekali jika harus menghadapi cewek yang berani padanya. Baginya sosok wanita itu harus tunduk. Marah boleh, tapi jangan melawan dia. Ingin rasanya Dani menghapus senyuman itu.
Apalagi setelah Rasti melakukan hal yang sangat buruk. Dia menampar seorang perempuan yang telah menghina dirinya. Rasti lebih kesal karena cewek itu mengaku sebagai pacar Dani pula.
“Kamu cewek tapi kasar!” desis Dani.
Suasana di mobil itu menjadi panas meski AC mobil tak henti memberi nuansa dingin.
“Dan kamu cowok bajingan yang sama banjingannya dengan cewek itu. Tukang selingkuh!”
“Udah dibilang jangan menuduh sembarangan.”
Kini Rasti membuka mulutnya. Mengangga. Dia benar tak habis pikir kenapa bisa jadi pacar cowok ini. Dani ahli sekali memutarbalikkan fakta dan membuat dia sebagai korban. Hebat!
“Aku udah lihat dengan mata kepalaku sendiri dodol! Kalian pelukan itu apa? Ganti cara salaman? Mesra amat!”
“Dear, please….,” sekarang kayaknya Dani melancarkan senjata lain. “Setiap kali kamu berbicara seperti itu kayaknya aku udah lakuin hal buruk banget. Ayolah…, Kami Cuma teman. She need a hug to make her feel better. Dia baru aja kemalangan…”
“Nice reason, Dan. Kamu juga ngasi kesempatan buat dirimu untuk menikmati. Aku tahu itu.”
Keduanya saling menatap. Menilai dalam pikiran masing masing petimbangan apa yang akan mereka lakukan. Pilihan menjadi dilema saat diri merasa benci tapi juga sayang, dalam waktu bersamaan.
Hanya logika bahwa kancil pun tak mau jatuh untuk yang ketiga kali menjalar di otak Rasti. Dia lelah. Tak hanya kali ini saja Dani tertangkap basah sedang bermesraan dengan cewek lain. Belum lagi gosip sana sini dari teman-temannya yang sempat tanpa sengaja melihat Dani menggandeng cewek lain.
Dasar playboy, hati cewek dia kira apa? Mainan?
“Aku udah selesai marahnya.”
Secercah senyum menyeruak di wajah Dani. Dia hendak memberi pelukan pada Rasti. Tuh, kan, cowok itu “ramah” banget, rajin menjamah!!
“Aku juga udah selesai berhubungan sama kamu, Dan.”
Oke, Rasti merasa dia masih kelas dua SMA. Duduk bersebelahan dan bilang kalau mereka putus, dengan kosakata yang disesuaikan.
“Dearest…, jangan coba—…” Dani ingin meraih tengkuk Rasti, tapi cewek itu menepis tangannya.
Rasti menggeleng. “Aku nggak mau lagi main-main. Aku udah nggak remaja lagi untuk lakuin hal-hal yang nggak ada gunanya, hanya biar kamu nggak melirik cewek lain. Komitmen, Dan. Itu yang kamu belum pelajari.”
“Aku bilang kamu nggak punya hak buat mutusin kita secara sepihak.”
“Ya, aku bisa. Aku nggak selemah yang kamu bayangkan. Aku juga baru tahu dari teman lamamu apa yang kamu lakukan pada mantan-mantanmu. Kamu cepat melupakan mereka. Aku harap kamu bisa melupakan aku dalam hitungan hari… atau mungkin detik.”
Rasti mengambil tas kerjanya, kemudian keluar dari mobil yang menyesakkan dadanya itu.
Tak lama, jendela pintu mobil terbuka.
“Kamu bakal menyesal, Rasti.”
Rasti tersenyum. “Mungkin. Tapi aku nyaranin aja, Dan. Kamu memang menarik dan bisa dapetin cewek mana saja. Tapi kami para cewek bisa belajar bahwa indahnya rupamu tidak menjamin hatimu juga baik. Aku nggak tahu sampai kapan kamu bakal mempermainkan hati para wanita… aku harap kamu jera suatu saat nanti.”
Rasti melangkah ke trotoar, di sana dia menghentikan sebuah taksi dan pergi pulang.
Dibelakangnya dia sempat mendengar Dani meneriaki dia dengan kata-kata yang sangat merendahkan kaum perempuan.
Hati Rasti teriris.