Showing posts with label BAB IV. Show all posts
Showing posts with label BAB IV. Show all posts

Sunday, January 1, 2012

Bab 4 After The Paty: It’s Life

Posted by Jason Abdul at 6:11 PM 0 comments
Setelah cukup lama cuti karena disibukkan urusan pernikahan, Rasti akhirnya kembali ke kantor. Dia di sambut dengan meriah oleh para karyawan di sana. Kejutan besar bagi penganting baru! Untung saja Rasti sudah berniat membawa beberapa kue dan  makanan untuk rekan di kantor. Sebagian memang tidak hadir saat pesta pernikahannya.   
            “Selain ucapan jadi pengantin baru, saya juga mengucapkan selamat atas terpilihnya ibu sebagai nominasi karyawan terbaik tahun ini.”
            Rasti menatap tak percaya pada sekretarisnya. Sekretarisnya mengangguk. Rasti menggeleng.
            “Lihat di papan pengumuman saja, Bu,” saran sekretarisnya.
            Ternyata benar! Rasti memekik bersama bawahannya. Akhirnya kinerjanya yang baik dihargai kantor. Walau pun dia tidak berambisi menjadi karyawa terbaik, namun hal ini bisa menjadi pegangannya untuk karir ke depan. Siapa tahu ada promosi kenaikan pangkat.
            Rasti masuk ke ruangannya untuk menelpon Junio.
            “Sayang, kamu lagi dimana?” tanya Rasti.
            “Di Kieree. Ada apa sayang, kayaknya bahagia sekali.” Junio bisa merasakannya. Rasti semakin mengembang dadanya.
            “Aku jadi salah satu kandidat karyawan terbaik tahun ini. Can you believe it?” tanya Rasti.
            “I believe because you deserve to get it. Walau pun aku nggak pernah datang ke kantormu buat lihat kamu kerja kayak gimana. Kamu senang banget, ya? Kita rayakan, yuk?”
            Sepertinya pesta bertubi-tubi akan mereka jalani.
            Rasti teringat tentang perkataan Junio tentang pasangan sumi istri itu setelah pernikahan pasti mendapat rezeki yang tak disangka-sangka.
            “Yakin sama Tuhan. Dia bakal bantu.”
            Kemudian mereka janjian untuk makan siang di sebuah restoran mewah.
            “Biar aku yang reservasi,” kata Junio.
            “Terima kasih banget, sayang! Love you so much! Muach!”
            “Muach!!”

Pekerjaan seharian itu terasa sangat ringan. Senyuman terus saja berada di bibir Rasti. Pada saat pelaporan oleh para account officer, Rasti membuat mereka nyaman dengan pertayaan-pertanyaan yang bagus. Bukan pertanyaan seorang yang sedang patah hati beberapa waktu dulu.
            “Lidia, saya pergi makan siang dulu, yah!” kata Rasti saat dia keluar dari ruangannya.
            “Makan dimana, Bu? Gabung sama kita aja!”
            “Saya sudah janji sama suami saya mau makan siang bersama.” Rasti senang saat mengucapkan “suami saya”, membuat sekeretarisnya iri saja.
            “Deuh... mesra banget. Pengen deh punya suami kayak Pak Junio.”
            Rasti menggeleng. “Jangan, gak bakal bisa. Junio saya hanya satu-satunya di dunia.”
            Lidia tertawa, begitu juga Rasti.
            “Ah, ibu ada-ada saja. Kalau begitu selamat makan siang. Salam ya untuk suami ganteng ibu.”
            Rasti menagangguk dan berlalu dari sana. Rasti dan Lidia sudah biasa bergurau seperti itu jadi dia tak menganggap serius sekretarisnya yang tiba-tiba jadi penggemar Junio. Pastinya, Rasti tidak akan membiarkan siapa pun merebut Junio.
            Dia geli sendiri tentang pikirannya yang jadi istri pencemburu.
            Dengan langkah santai, dia melaju ke restoran tempat mereka janjian.

 

Pertemuan Cinta Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos