“Sudah saya bilang kan,
kalau undangan yang dipesan itu bewarna kuning dengan gradasi warna yang lebih
lembut. Kalau seperti ini kelihatan murahan. Terus kertasnya kok lengket di
bagian ujungnya. Lemnya malah nggak erat! Ini lagi tulisan arabnya nggak usah
terlalu seni, jadinya malah nggak terbaca.”
Rasti menghapus keringat di dahinya. Kenapa tempat ini
tidak ada AC? Kipas angin di sudut ruangan tak mampu memberikan kesejukan yang
dibutuhkan Rasti dan hatinya.
“Mbak ini, kan contoh,” kata pegawai di percetakan
undangan ini.
Rasti ingin mendebat, tapi ponselnya berdering.
“Kak, ada kabar dari gedung dan penginapan nih. Katanya
gedung nggak bisa dipakai tanggal segitu gara-gara ada pejabat yang mau pakai hari
itu juga. Duh. Sebel banget deh kalau jasa kayak gini, pejabat itu juga
seenaknya aja nggeser-geser jadwal orang!” Suara Riana dari seberang telepon
terdengar sangat kesal.
Lihat, adiknya sendiri yang bantu dia mengurus pernikahan
ini juga ikutan stress. Rasti menghela nafas. Dia ingin semuanya sempurna di
hari H, tapi sebulan makin dekat saja sudah memakan banyak tenaga dan pikiran
seperti ini.
“Nanti biar aku protes sama pemilik gedungnya. Nggak mau
hari lain. Aku inginnya pernikahan itu di hari ulang tahunku. Dan gedung itu
satu-satunya yang oke buat konsep yang dirancang decorator.”
“Aku bilang dulu sama pengelola gedung,” kata Riana.
Kemudian terdengar dia sedang berbincang sama seseorang. “Kak, besok secepatnya
aja ke sini.”
“Oke. Trus, masalah penginapan?”
“Mama bilang kurang cukup buat keluarga kita. Tahu ajalah,
mama mau mengundang semua keluarga yang di daerah. Padahal keluarga kita besar
banget!”
“Nggak
ada yang lebih besar tapi masih dekat gedung, Na?”
“Aku lagi nyari. Masih belum ada yang bisa.”
“Coba lagi ya, Dek?”
“Iya. Aku cuma mau kasih tahu perkembangannya. Pernikahanmu
bakalan jad hal tak terlupakan, Kak. Percaya aja. Paling nggak, kamu beruntung
dapat Mas Junio.”
Hati Rasti berbunga, “Makasi, Na!”
Telepon di matikan. Rasti menghela nafas panjang. Dirinya
sudah terlalu lelah hari ini dan jam makan siang sudah hampir berakhir. Terasa
perut yang mulai minta makan.
Walau bagaimana pun ini semua untuk pernikahannya dengan
Junio. Jodohnya yang dia temukan di malam itu.pertetmuan selanjutnya mereka
lakukan beberapa kali. Sebulan... dua bulan... kecocokan itu menjadi semakin
terlihat. Junio akhirnya melamar Rasti. Namun, mereka sepakat untuk langsung
menikah tanpa harus tuangan dulu.
Rasti mengenal Junio sebagai pria yang pendiam, pendengar
yang baik, setia, dan menurut teman Junio dan karyawan mereka Junio jarang
terlihat dengan banyak wanita, dia setia dan penganut monogami. Rasti sempat
memberi syarat saat Junio melamar. Dia tidak ingin Junio berada di dalam mobil
berdua saja dengan seorang wanita, kecuali anggota keluarga. Selain itu, Junio
harus berada di sisinya sampai kapan pun.
Junio menyanggupi. Mudah baginya.
Rasti memang
sempat tak yakin dengan keputusannya menerima Junio. Kadang saat dia berpikir
kembali tentang hubungan mereka yang baru dua bulan saling mengenal, perasaan
ragu menyusup ke dadanya. Dia hanya pernah membayangkan bahwa suaminya adalah
seorang yang dia kenal luar dalam selama bertahun-tahun. Nyatanya, dia ada di
sini memulai sebuah keularga dengan orang yang belum dikenalnya luar dalam.
Rio menasihati Rasti tentang pendapatnya itu. “Pacaran
memang proses untuk saling mengenal, tapi kalau salah satu atau keduanya nggak
punya niat untuk saling menunjukkan diri sebenarnya tetap saja kita nggak bisa
mengenal pasangan luar dalam. Kalo pacaran, kan, yang dikasi lihat hanya yang
bagus-bagus saja, biar di mata pacar kita tetap berharga.
“Trus kalo menikah, mau dia ketahuan suka ngorok juga
nggak masalah. Pandai-pandai kita nerima pasangan apa adanya. Tugas kita untuk
menjaga komitmen dan mengatasi masalah yang ada.”
Iya, iya! Rasti jadi bingung sendiri.
Pokoknya dia tidak boleh ragu lagi dengan Junio. Semua
bilang kalau Junio sangat pantas jadi pendampingnya. Gagah, mapan, santun, dan
sayang keluarga. Buktinya dia masih peduli dengan ibunya walau pun sang mama
tinggal di sebuah panti jompo. Selain itu, Junio rela menjalani usaha toko roti
keluarga di samping tugasnya yang cukup banyak sebagai seorang brand manager.
Rasti melirik foto Junio saat dia membuka dompet untuk
membayar tagihan pencetakan undangan, dia tersenyum.
Junio... kuharap kamu memang Sang Mr. Right.
Junio mendapatkan email dari
Rasti, dengan antusias dia membaca email tersebut.
“Dearest Junio, aku
mungkin kecapekan sampai telat bangun buat pergi ke kantor. Persiapan
pernikahan memang menyita waktu. Tapi, aku udah berkeputusan untuk mengaturnya
sendiri bareng keluargaku.
Kamu
kerjakan saja tugasmu di sana. Don’t worry... aku
tangguh kok.
Salam
sayang, Rasti.”
Junio tahu kalau Rasti pasti menulis email beberapa kali
sebelum dia mengirimkan yang ini. Wanita itu dikenalnya ekspresif dan sering
panik berlebihan. Tapi, makin hari Rasti sudah berubah untuk dapat melihat
semua sedikit lebih rasional. Lihat saja, sekarang dia bukan sosok wanita
dewasa yang manja, tapi tangguh.
“Dearest, I wish I was there. Aku selalu memikirkanmu. Tak
sabar ingin berjumpa dan membantu mengurangi kelelahanmu...”
Dikirimnya email balasan itu.
Junio sedang berada d Jepang untuk melakukan
pekerjaannya. Perjalanan ke luar negeri ini dilakukan setiap empat bulan
sekali. Kebetulan kali ini Junio bertugas selagi persiapan pesta pernikahan
harus dilakukan. Rasti memilih sendiri tanggalnya... tanggal ulang tahun wanita
itu saat dia beranjak menjadi dua puluh sembilan tahun. Junio setuju saja dan
malah senang bisa memberikan kehidupan baru bagi Rasti saat wanita itu
bertambah umur.
Kemudian dia teringat sesuatu, dikirmnya sebuah email
lagi. “Ayo kita pakai Skype malam ini. Aku ingin ngobrol banyak.”
Inilah mereka, saling berhadapan. Junio di Jepang
sedangkan Rasti di Indonesia. Dari balik webcam
masing-masing mereka mengobrol. Rasti menceritakan kepanikannya tentang segala
persiapan dan tetek bengek pernikahan. Junio mendengarkan dengan tenang, kadang
menanggapi di saat yang tepat. Dia melihat wajah calon istrinya yang kecapekan
namun rela melakukan semua.
Junio mengatakan seuatu.
“Ras... kamu yakin, kan?”
Seharusnya Junio tak perlu menanyakan hal itu, tapi
bibirnya gatal untuk meluncurkan kata-kata tadi.
“Kamu kan nggak perlu tanya lagi, Jun. Aku nggak mau plin
plan terus. Aku pernah gagal berhubungan dengan cowok beberapa kali karena
sikapku yang berubah setiap lima menit. Kekanakan jika mengingat aku sering
banyak permintaan dan harapan soal pasangan. Kamu pilihanku, Jun. Aku nggak
tahu lagi harus bagaimana selain yakin kamulah The One.”
Junio tersenyum. “Aku juga yakin kamu orangnya. Ibuku
juga yakin... kita jodoh, sayang.”
Kemudian keduanya saling mendekatkan tangan ke layar
komputer, berharap seandainya kulit mereka memang bisa saling menyentuh.