Showing posts with label BAB II. Show all posts
Showing posts with label BAB II. Show all posts

Sunday, January 1, 2012

Bab 2 Wedding is A Complicated Event

Posted by Jason Abdul at 8:09 PM 0 comments
“Sudah saya bilang kan, kalau undangan yang dipesan itu bewarna kuning dengan gradasi warna yang lebih lembut. Kalau seperti ini kelihatan murahan. Terus kertasnya kok lengket di bagian ujungnya. Lemnya malah nggak erat! Ini lagi tulisan arabnya nggak usah terlalu seni, jadinya malah nggak terbaca.”
            Rasti menghapus keringat di dahinya. Kenapa tempat ini tidak ada AC? Kipas angin di sudut ruangan tak mampu memberikan kesejukan yang dibutuhkan Rasti dan hatinya.
            “Mbak ini, kan contoh,” kata pegawai di percetakan undangan ini.
            Rasti ingin mendebat, tapi ponselnya berdering.
            “Kak, ada kabar dari gedung dan penginapan nih. Katanya gedung nggak bisa dipakai tanggal segitu gara-gara ada pejabat yang mau pakai hari itu juga. Duh. Sebel banget deh kalau jasa kayak gini, pejabat itu juga seenaknya aja nggeser-geser jadwal orang!” Suara Riana dari seberang telepon terdengar sangat kesal.
            Lihat, adiknya sendiri yang bantu dia mengurus pernikahan ini juga ikutan stress. Rasti menghela nafas. Dia ingin semuanya sempurna di hari H, tapi sebulan makin dekat saja sudah memakan banyak tenaga dan pikiran seperti ini.
            “Nanti biar aku protes sama pemilik gedungnya. Nggak mau hari lain. Aku inginnya pernikahan itu di hari ulang tahunku. Dan gedung itu satu-satunya yang oke buat konsep yang dirancang decorator.”
            “Aku bilang dulu sama pengelola gedung,” kata Riana. Kemudian terdengar dia sedang berbincang sama seseorang. “Kak, besok secepatnya aja ke sini.”
            “Oke. Trus, masalah penginapan?”
            “Mama bilang kurang cukup buat keluarga kita. Tahu ajalah, mama mau mengundang semua keluarga yang di daerah. Padahal keluarga kita besar banget!”
            “Nggak ada yang lebih besar tapi masih dekat gedung, Na?”
            “Aku lagi nyari. Masih belum ada yang bisa.”
            “Coba lagi ya, Dek?”
            “Iya. Aku cuma mau kasih tahu perkembangannya. Pernikahanmu bakalan jad hal tak terlupakan, Kak. Percaya aja. Paling nggak, kamu beruntung dapat Mas Junio.”
            Hati Rasti berbunga, “Makasi, Na!”
            Telepon di matikan. Rasti menghela nafas panjang. Dirinya sudah terlalu lelah hari ini dan jam makan siang sudah hampir berakhir. Terasa perut yang mulai minta makan.
            Walau bagaimana pun ini semua untuk pernikahannya dengan Junio. Jodohnya yang dia temukan di malam itu.pertetmuan selanjutnya mereka lakukan beberapa kali. Sebulan... dua bulan... kecocokan itu menjadi semakin terlihat. Junio akhirnya melamar Rasti. Namun, mereka sepakat untuk langsung menikah tanpa harus tuangan dulu.
            Rasti mengenal Junio sebagai pria yang pendiam, pendengar yang baik, setia, dan menurut teman Junio dan karyawan mereka Junio jarang terlihat dengan banyak wanita, dia setia dan penganut monogami. Rasti sempat memberi syarat saat Junio melamar. Dia tidak ingin Junio berada di dalam mobil berdua saja dengan seorang wanita, kecuali anggota keluarga. Selain itu, Junio harus berada di sisinya sampai kapan pun.
            Junio menyanggupi. Mudah baginya.
            Rasti memang sempat tak yakin dengan keputusannya menerima Junio. Kadang saat dia berpikir kembali tentang hubungan mereka yang baru dua bulan saling mengenal, perasaan ragu menyusup ke dadanya. Dia hanya pernah membayangkan bahwa suaminya adalah seorang yang dia kenal luar dalam selama bertahun-tahun. Nyatanya, dia ada di sini memulai sebuah keularga dengan orang yang belum dikenalnya luar dalam.
            Rio menasihati Rasti tentang pendapatnya itu. “Pacaran memang proses untuk saling mengenal, tapi kalau salah satu atau keduanya nggak punya niat untuk saling menunjukkan diri sebenarnya tetap saja kita nggak bisa mengenal pasangan luar dalam. Kalo pacaran, kan, yang dikasi lihat hanya yang bagus-bagus saja, biar di mata pacar kita tetap berharga.
            “Trus kalo menikah, mau dia ketahuan suka ngorok juga nggak masalah. Pandai-pandai kita nerima pasangan apa adanya. Tugas kita untuk menjaga komitmen dan mengatasi masalah yang ada.”
            Iya, iya! Rasti jadi bingung sendiri.
            Pokoknya dia tidak boleh ragu lagi dengan Junio. Semua bilang kalau Junio sangat pantas jadi pendampingnya. Gagah, mapan, santun, dan sayang keluarga. Buktinya dia masih peduli dengan ibunya walau pun sang mama tinggal di sebuah panti jompo. Selain itu, Junio rela menjalani usaha toko roti keluarga di samping tugasnya yang cukup banyak sebagai seorang brand manager.
            Rasti melirik foto Junio saat dia membuka dompet untuk membayar tagihan pencetakan undangan, dia tersenyum.
            Junio... kuharap kamu memang Sang Mr. Right.

Junio mendapatkan email dari Rasti, dengan antusias dia membaca email tersebut.
            “Dearest Junio, aku mungkin kecapekan sampai telat bangun buat pergi ke kantor. Persiapan pernikahan memang menyita waktu. Tapi, aku udah berkeputusan untuk mengaturnya sendiri bareng keluargaku.
            Kamu kerjakan saja tugasmu di sana. Don’t worry... aku tangguh kok.
            Salam sayang, Rasti.”
            Junio tahu kalau Rasti pasti menulis email beberapa kali sebelum dia mengirimkan yang ini. Wanita itu dikenalnya ekspresif dan sering panik berlebihan. Tapi, makin hari Rasti sudah berubah untuk dapat melihat semua sedikit lebih rasional. Lihat saja, sekarang dia bukan sosok wanita dewasa yang manja, tapi tangguh.
            “Dearest, I wish I was there. Aku selalu memikirkanmu. Tak sabar ingin berjumpa dan membantu mengurangi kelelahanmu...
            Dikirimnya email balasan itu.
            Junio sedang berada d Jepang untuk melakukan pekerjaannya. Perjalanan ke luar negeri ini dilakukan setiap empat bulan sekali. Kebetulan kali ini Junio bertugas selagi persiapan pesta pernikahan harus dilakukan. Rasti memilih sendiri tanggalnya... tanggal ulang tahun wanita itu saat dia beranjak menjadi dua puluh sembilan tahun. Junio setuju saja dan malah senang bisa memberikan kehidupan baru bagi Rasti saat wanita itu bertambah umur.
            Kemudian dia teringat sesuatu, dikirmnya sebuah email lagi. “Ayo kita pakai Skype malam ini. Aku ingin ngobrol banyak.”
            Inilah mereka, saling berhadapan. Junio di Jepang sedangkan Rasti di Indonesia. Dari balik webcam masing-masing mereka mengobrol. Rasti menceritakan kepanikannya tentang segala persiapan dan tetek bengek pernikahan. Junio mendengarkan dengan tenang, kadang menanggapi di saat yang tepat. Dia melihat wajah calon istrinya yang kecapekan namun rela melakukan semua.
            Junio mengatakan seuatu.
            “Ras... kamu yakin, kan?”
            Seharusnya Junio tak perlu menanyakan hal itu, tapi bibirnya gatal untuk meluncurkan kata-kata tadi.
            “Kamu kan nggak perlu tanya lagi, Jun. Aku nggak mau plin plan terus. Aku pernah gagal berhubungan dengan cowok beberapa kali karena sikapku yang berubah setiap lima menit. Kekanakan jika mengingat aku sering banyak permintaan dan harapan soal pasangan. Kamu pilihanku, Jun. Aku nggak tahu lagi harus bagaimana selain yakin kamulah The One.”
            Junio tersenyum. “Aku juga yakin kamu orangnya. Ibuku juga yakin... kita jodoh, sayang.”
            Kemudian keduanya saling mendekatkan tangan ke layar komputer, berharap seandainya kulit mereka memang bisa saling menyentuh.

 

Pertemuan Cinta Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos