Pernikahan antar agama
kadang ditentang. Alasannya hanya karena bagi sebagian umat beragama, penganut
agama yang berbeda adalah orang kafir. Beberapa malah mempunyai ajaran kalau
yang kafir pantas mati. Kenapa pula harus menikah dan melahirkan anak dari
rahim yang berbeda keyakinan, hal yang mendasar dari cara hidup? Namun, tak
sedikit pernikahan yang ini bertahan lama. Mereka bisa menjadikan perbedaan
sebagai sarana untuk belajar menghargai pendapat orang lain, terlepas apakah
akhirnya mereka menyamakan agama atau tidak.
Pernikahan antar saudara memang dilarang. Alasannya anak
mereka tidak akan luput dari segala kekurangan dan keganjilan. Incest, itu istilahnya. Inilah cinta
yang tak perlu dipertahankan.
Pernikahan yang dilarang orangtua membuat pasangan yang
dimabuk asmara tak peduli lagi tentang konsep berbakti pada orangtua. Mereka
lebih suka bersusah-susah dalam cinta dari pada hidup berkecukupan bersama
orangtua. Cinta itu perlu dipertahankan? Entahlah, mungkin berharga jika
pasangan ini mampu bertahan.
Pernikahan sesama jenis? Beberapa negara sudah merancang
undang-undang yang membolehkan gay
dan lesbian menikah, seperti Belanda yang jadi ikon surga gay di dunia. Namun, di Indonesia hal ini masih ganjil. Perlu
dipertahankan? Mungkin, jika suatu saat nanti negara ini menerapkan norma ala
negara barat.
Pernikahan seorang pria homoseksual dengan wanita
heteroseksual. Perlu dipertahankan?
Junio menjawab dengan yakin: YA!