Pernikahan bagaikan sebuah ending
di cerita dongeng. Happy ending.
Ingat saja bagaimana gembiranya Cinderella yang berubah dari upik abu menjadi
seorang putri karena ditemukan sang pangeran, kemudian mereka menikah dan
bahagia. Bagi para wanita yang baru menikah, suami mereka laksana sang pangeran
berkuda putih yang menjemput dan memperlakukan mereka selayaknya putri
kerajaan.
Walaupun kenyataan tidak
sama dengan dongeng.
Kalau dibanding-bandingkan,
Rasti merasa dia seperti Cinderella, hanya saja dia bukan upik abu, tapi
seorang wanita yang menderita dalam perjalanan cinta dan menjalin hubungan
dengan pria. Dia dikecewakan para mantannya. Sedangkan Junio, mencari
pasangannya—seperi pangeran mencari pemilik sepatu kaca—yang sesuai dengan
hatinya. Mereka bertemu dalam waktu yang tak pernah dibayangkan... pertemuan
cinta. Kemudian menikah dalam waktu yang cepat.
Bukankah Pangeran segera
mengajak Cinderella menikah setelah dia tahu satu-satunya wanita yang kakinya
cocok pada sepatu kaca adalah gadis ini? Padahal karakter atau sifat perempuan
itu belum diketahuinya luar dalam? Mungkin cinta mereka kembang dalam satu
malam.
Itu sempat Rasti pikirkan
saat dia masih larut dalam kebahagiaan di pesta pernikahan. Melihat semua
pesiapan yang melelahkan dan hasil yang setimpal, Rasti bahagia. Sangat
bahagia.
Siang hari dia tampak
menikmati, tapi masalahnya dia malah ketakutan saat hari berganti malam dan
pesta berakhir! Dia kangen dengan huru hara saat persiapan pernikahan. Meski
pun kekesalan, kekacauan dan panik juga mewarnai, dia puas memberikan itu
semua. Rasti merasa energinya disalurkan untuk hal yang bernilai.
Kini dia akan berada di
kehidupan semula. Hanya saja sekarang dia tidak sendiri. Ada seorang yang
mendampinginya.
Dia sangat yakin saat
pernikahan itu berlangsung...
Namun, semakin malam...
semakin sedikti orang di sekitar mereka, saat hanya keluarga dan kerabat dekat
yang berada di penginapan itu... dia tidak seyakin itu. Imannya turun. Dia
ketakutan setengah mati.
Apa dia telah memilih
orang yang salah? Bayangkan, baru dua bulan sudah menikah? Seorang penasihat
hubungan di radio pernah meledek wanita yang menikahi pria yang baru dikenal
lima bulan.
“Kamu takut kesepian, ya?” tanya penasihat hubungan itu.
Si penanya sempat ragu dalam menjawab. “Mungkin... ya. Aku
memang takut kesepian.”
“Tapi kamu tahu hal yang lebih menakutkan dari kesepian?
Yaitu saat kamu kesepian karena hidup dengan pria yang salah sepanjang
hidupmu...”
Rasti memandang wajahnya
yang terpantul kaca kamar mandi. Dia memilih Junio. Siapa Junio?
Dia seorang pemilik toko
roti dimana Rasti sangat menyukai es krimnya, dan juga seorang manajer toko
pakaian pria. Junio memakai kacamata dan sangat peduli dangan penampilan, yang
membei nilai tambah. Dia sopan dan sayang dengan keluarga—caranya memperlakukan
ibunya sangat menyentuh. Junio suka menonton berita, membaca koran, dan buku
karena ingin selalu update informasi
dan berita. TV One dan Metro TV adalah stasiun favoritnya. Dia tidak terlalu
tahan dengan pedas dan sangat menyukai yang manis, seperti Rasti. Selain itu
Junio memiliki selera musik yang bagus, balada, orkestra dan jazz.
Dan masih banyak lagi.
Namun, masih banyak lagi
yang tidak dia ketahui perihal Junio. Asing.
Dari balik telepon, mama
Rasti menasihati anaknya. Rasti begitu pusing di malam itu sehingga perlu
menelpon mamanya.
“Post wedding blues,” kata mamanya tentang gejala pada diri Rasti.
“Begini Rasti, pikirkan tentang bagaimana kamu menjalani proses mengenal
pasanganmu. Lewat pernikahanlah dua hati di satukan. Kamu ingat kan, temanmu
yang menikah dengan pacar lima tahunnya, ternyata banyak hal yang disembunyikan
pacarnya itu. Dia suka ngutang tapi nggak dibayar. Jadi, apa kamu yakin dengan
pacaran bertahun-tahun kalian sudah kenal luar dalam. Rahasia kamu saja nggak
semua mama tahu, pasti ada yang kamu sembunyikan.”
“Tapi, ma... kenapa
perasaan ini datang lagi. Rasti ketakutan!” Mata Rasti berkaca-kaca.
“Kalau kamu percaya
padanya dia akan mempercayaimu untuk berbagi rahasia. Suatu masa kalian akan
saling mengerti, saling spontan saja.”
“Ma...”
“Mama tahu suamimu sudah
menunggu. Jangan kecewakan dia. Buat dia bergairah malam ini, sayang!”
Rasti menghela nafas
panjang. Jika sikapnya tetap plin-plan seperti ini, apa yang berubah pada
dirinya? Tidak. Rati tidak mau dia masih bersikap seperti remaja yang labil.
Dia yakin... dia bisa
mempercayai Juno sebagai suaminya.
Pasangan yang salah?
Sepertinya itu tidak ada. Yang ada hanya suami baru yang perlu dimengerti.
Sejam sebelumnya.
Junio menggendong Rasti
dari lobi penginapan, disambut terikan dan tepuk tangan dari semua keluarga dan
kerabat yang hadir melihat mereka. Binar kebahagiaan pada wajah pria itu.
Diberikannya pula satu kecupan dalam dikening Rasti, yang pasti membuat
istrinya melayang ke langit ke tujuh. Kemudian mereka menuju kamar mereka di
lantai tiga.
Semakin mendekati kamar,
dia deg-degan... inilah malam pertama yang dinantikannya. Sekaligus hal yang
membuatnya cemas.
Rasti menutup mata bahkan
hingga sampai di dalam.
“Aku mau mandi dulu,”
kata Rasti.
Junio tertegun, apakah
dia harus meminta mereka mandi bersama?
“Kamu mau aku ikut?”
tanya Junio. Kemudian dia menyesali pilihan katanya. Seharusnya dia mulai
merayu dan memeluk Rasti, mengajak istrinya ke kamar mandi.
Rasti menggelang. “Kita
mandinya setelah itu saja..., oke?”
Tanpa protes Junio
mengiyakan. Dia duduk sebentar di atas kasur kamar pengantin yang didekorasi
indah serta bergaya etnik itu.
Kemudian mengambil ponsel yang ada di nakas. Dia ingin
menelpon seseorang. Fiki. Junio berjalan menuju balkon agar suaranya tak
terdengar oleh Rasti. Pintu kaca balkon pun ditutupnya.
Angin malam bertiup ke tengkuk Junio.
“Halo, Fik. Lu lagi dimana? Gue nggak ganggu, kan?” tanya
junio segera.
Fiki malah tertawa di seberang. “Harusnya gue yang tanya
lo. Kenapa malah nelpon gue di malam pertama? Bukannya malam ini milik kalian
berdua?”
Junio mengabaikan tawa mengejek Fiki.
“Gawat!”
“Gawat kenapa?” tanya Fiki jadi ikut serius.
“Gue ketakutan. Sumpah!”
Fiki berusaha menenangkan sahabatnya. “Kita udah bicarakan
ini berulang kali, Jun. Lo hanya perlu beri hak pada diri lo untuk mencintai
perempuan. Rasti orangnya. Lo nggak perlu takut lagi kalau semua kacau. ada hal
yang bisa diperbaiki, lo berada dalam proses itu. Nikmati saja.”
Junio mencengkeram rambatnya. Pusing.
“Junio? Lo masih hidup, kan?”
“Masih!”
“Lo kuat, jantan, macho.
Lu pasti bisa, Jun.”
Junio masih belum tahu harus bicara apa. Dia harus jujur
pada Fiki. Dia mengatur kata-kata dalam pikirannya.
“Fiki,” panggil Junio. “Gue masih mikirin ‘dia’.”
Tanpa dijelaskan, Fiki paham siapa yang dimaksud
Junio melanjutkan. “Tiba-tiba aja gue merasa dia hadir di
pesta tadi. Wajahnya ada di sana, tapi gue nggak yakin. Semua seperti khayalan
saja. Gue mikirin dia sepanjang sore ini.”
“Lo suami Rasti, lho, Junio. Jangan mikirin yang lain,
oke?”
Fiki membuat Junio kesal. Ini masalah serius dan jawaban
tadi membuat Junio kecewa.
“Ini datang begitu aja,” bela Junio tentang perasaannya.
“Setan yang goda lo. Setan yang nyuruh lo peduli lagi
dengan masa lalu itu.”
“Sialan lo, Fik. Sekarang lo ngomong gue tersesat?”
Junio menjadi semakin panik. Dia mencuri-curi lihat ke
dalam kamar, dilihatnya sosok Rasti masih belum tampak. Untunglah.
“Sabar, bro. Lo
tahu kalau malam pertama adalah penantian semua pria. Termasuk lo! Lo pria yang
malam ini akan membehagiakan istri karena permainan yang mantap! Dunia serasa
milik berdua karena yang lain ngontrak!”
Junio tertawa juga mendengar lelucon payah sahabatnya.
“Jadi, fokus ke permainan sama Rasti aja, nih?”
“Yup. Never regret.
Besok-besok jangan lupa cerita gimana malam ini, oke?” goda Fiki.
“Uh, enak saja.”
“Tutup telpon ini, kalau perlu buang ke tong sampah. Rasti
pasti sudah menunggu, kan?”
Junio masih merasa ketakutan.
“Tarik nafas, Jun. Bernafas itu cara paling dasar untuk
menenangkan jiwa. Coba teknik 4-7-8”
Junio melakukannya. Caranya
adalah dengan menghirup napas dari hidung selama 4 hitungan, tahan napas selama 7 hitungan, dan
hembuskan napas dari mulut selama 8 hitungan. Nikmati rasa rileks yang hadir di
tubuh dan pikiran.
“Udah rileks?” tanya Fiki.
“Dikit.”
“Coba lagi bernafas entar. Tapi tutup dulu telpon ini! Dan
selamat menghangatkan malam!”
Sambungan teputus. Junio memasukkan ponselnya ke saku
pakaian pernikahannya.
Junio melihat ke ruangan dan Rasti belum keluar.