Showing posts with label BAB III. Show all posts
Showing posts with label BAB III. Show all posts

Sunday, January 1, 2012

Bab 3 Newlywed, everything is new for them

Posted by Jason Abdul at 7:10 PM 0 comments
Pernikahan bagaikan sebuah ending di cerita dongeng. Happy ending. Ingat saja bagaimana gembiranya Cinderella yang berubah dari upik abu menjadi seorang putri karena ditemukan sang pangeran, kemudian mereka menikah dan bahagia. Bagi para wanita yang baru menikah, suami mereka laksana sang pangeran berkuda putih yang menjemput dan memperlakukan mereka selayaknya putri kerajaan.
            Walaupun kenyataan tidak sama dengan dongeng.
            Kalau dibanding-bandingkan, Rasti merasa dia seperti Cinderella, hanya saja dia bukan upik abu, tapi seorang wanita yang menderita dalam perjalanan cinta dan menjalin hubungan dengan pria. Dia dikecewakan para mantannya. Sedangkan Junio, mencari pasangannya—seperi pangeran mencari pemilik sepatu kaca—yang sesuai dengan hatinya. Mereka bertemu dalam waktu yang tak pernah dibayangkan... pertemuan cinta. Kemudian menikah dalam waktu yang cepat.
            Bukankah Pangeran segera mengajak Cinderella menikah setelah dia tahu satu-satunya wanita yang kakinya cocok pada sepatu kaca adalah gadis ini? Padahal karakter atau sifat perempuan itu belum diketahuinya luar dalam? Mungkin cinta mereka kembang dalam satu malam.
            Itu sempat Rasti pikirkan saat dia masih larut dalam kebahagiaan di pesta pernikahan. Melihat semua pesiapan yang melelahkan dan hasil yang setimpal, Rasti bahagia. Sangat bahagia.
            Siang hari dia tampak menikmati, tapi masalahnya dia malah ketakutan saat hari berganti malam dan pesta berakhir! Dia kangen dengan huru hara saat persiapan pernikahan. Meski pun kekesalan, kekacauan dan panik juga mewarnai, dia puas memberikan itu semua. Rasti merasa energinya disalurkan untuk hal yang bernilai.
            Kini dia akan berada di kehidupan semula. Hanya saja sekarang dia tidak sendiri. Ada seorang yang mendampinginya.
            Dia sangat yakin saat pernikahan itu berlangsung...
            Namun, semakin malam... semakin sedikti orang di sekitar mereka, saat hanya keluarga dan kerabat dekat yang berada di penginapan itu... dia tidak seyakin itu. Imannya turun. Dia ketakutan setengah mati.
            Apa dia telah memilih orang yang salah? Bayangkan, baru dua bulan sudah menikah? Seorang penasihat hubungan di radio pernah meledek wanita yang menikahi pria yang baru dikenal lima bulan.
“Kamu takut kesepian, ya?” tanya penasihat hubungan itu.
Si penanya sempat ragu dalam menjawab. “Mungkin... ya. Aku memang takut kesepian.”
“Tapi kamu tahu hal yang lebih menakutkan dari kesepian? Yaitu saat kamu kesepian karena hidup dengan pria yang salah sepanjang hidupmu...”
            Rasti memandang wajahnya yang terpantul kaca kamar mandi. Dia memilih Junio. Siapa Junio?
            Dia seorang pemilik toko roti dimana Rasti sangat menyukai es krimnya, dan juga seorang manajer toko pakaian pria. Junio memakai kacamata dan sangat peduli dangan penampilan, yang membei nilai tambah. Dia sopan dan sayang dengan keluarga—caranya memperlakukan ibunya sangat menyentuh. Junio suka menonton berita, membaca koran, dan buku karena ingin selalu update informasi dan berita. TV One dan Metro TV adalah stasiun favoritnya. Dia tidak terlalu tahan dengan pedas dan sangat menyukai yang manis, seperti Rasti. Selain itu Junio memiliki selera musik yang bagus, balada, orkestra dan jazz.
            Dan masih banyak lagi.
            Namun, masih banyak lagi yang tidak dia ketahui perihal Junio. Asing.
            Dari balik telepon, mama Rasti menasihati anaknya. Rasti begitu pusing di malam itu sehingga perlu menelpon mamanya.
            “Post wedding blues,” kata mamanya tentang gejala pada diri Rasti. “Begini Rasti, pikirkan tentang bagaimana kamu menjalani proses mengenal pasanganmu. Lewat pernikahanlah dua hati di satukan. Kamu ingat kan, temanmu yang menikah dengan pacar lima tahunnya, ternyata banyak hal yang disembunyikan pacarnya itu. Dia suka ngutang tapi nggak dibayar. Jadi, apa kamu yakin dengan pacaran bertahun-tahun kalian sudah kenal luar dalam. Rahasia kamu saja nggak semua mama tahu, pasti ada yang kamu sembunyikan.”
            “Tapi, ma... kenapa perasaan ini datang lagi. Rasti ketakutan!” Mata Rasti berkaca-kaca.
            “Kalau kamu percaya padanya dia akan mempercayaimu untuk berbagi rahasia. Suatu masa kalian akan saling mengerti, saling spontan saja.”
            “Ma...”
            “Mama tahu suamimu sudah menunggu. Jangan kecewakan dia. Buat dia bergairah malam ini, sayang!”
            Rasti menghela nafas panjang. Jika sikapnya tetap plin-plan seperti ini, apa yang berubah pada dirinya? Tidak. Rati tidak mau dia masih bersikap seperti remaja yang labil.
            Dia yakin... dia bisa mempercayai Juno sebagai suaminya.
            Pasangan yang salah? Sepertinya itu tidak ada. Yang ada hanya suami baru yang perlu dimengerti.

Sejam sebelumnya.
            Junio menggendong Rasti dari lobi penginapan, disambut terikan dan tepuk tangan dari semua keluarga dan kerabat yang hadir melihat mereka. Binar kebahagiaan pada wajah pria itu. Diberikannya pula satu kecupan dalam dikening Rasti, yang pasti membuat istrinya melayang ke langit ke tujuh. Kemudian mereka menuju kamar mereka di lantai tiga.
            Semakin mendekati kamar, dia deg-degan... inilah malam pertama yang dinantikannya. Sekaligus hal yang membuatnya cemas.
            Rasti menutup mata bahkan hingga sampai di dalam.
            “Aku mau mandi dulu,” kata Rasti.
            Junio tertegun, apakah dia harus meminta mereka mandi bersama?
            “Kamu mau aku ikut?” tanya Junio. Kemudian dia menyesali pilihan katanya. Seharusnya dia mulai merayu dan memeluk Rasti, mengajak istrinya ke kamar mandi.
            Rasti menggelang. “Kita mandinya setelah itu saja..., oke?”
            Tanpa protes Junio mengiyakan. Dia duduk sebentar di atas kasur kamar pengantin yang didekorasi indah serta bergaya etnik itu.
Kemudian mengambil ponsel yang ada di nakas. Dia ingin menelpon seseorang. Fiki. Junio berjalan menuju balkon agar suaranya tak terdengar oleh Rasti. Pintu kaca balkon pun ditutupnya.
Angin malam bertiup ke tengkuk Junio.
“Halo, Fik. Lu lagi dimana? Gue nggak ganggu, kan?” tanya junio segera.
Fiki malah tertawa di seberang. “Harusnya gue yang tanya lo. Kenapa malah nelpon gue di malam pertama? Bukannya malam ini milik kalian berdua?”
Junio mengabaikan tawa mengejek Fiki.
“Gawat!”
“Gawat kenapa?” tanya Fiki jadi ikut serius.
“Gue ketakutan. Sumpah!”
Fiki berusaha menenangkan sahabatnya. “Kita udah bicarakan ini berulang kali, Jun. Lo hanya perlu beri hak pada diri lo untuk mencintai perempuan. Rasti orangnya. Lo nggak perlu takut lagi kalau semua kacau. ada hal yang bisa diperbaiki, lo berada dalam proses itu. Nikmati saja.”
Junio mencengkeram rambatnya. Pusing.
“Junio? Lo masih hidup, kan?”
“Masih!”
“Lo kuat, jantan, macho. Lu pasti bisa, Jun.”
Junio masih belum tahu harus bicara apa. Dia harus jujur pada Fiki. Dia mengatur kata-kata dalam pikirannya.
“Fiki,” panggil Junio. “Gue masih mikirin ‘dia’.”
Tanpa dijelaskan, Fiki paham siapa yang dimaksud
Junio melanjutkan. “Tiba-tiba aja gue merasa dia hadir di pesta tadi. Wajahnya ada di sana, tapi gue nggak yakin. Semua seperti khayalan saja. Gue mikirin dia sepanjang sore ini.”
“Lo suami Rasti, lho, Junio. Jangan mikirin yang lain, oke?”
Fiki membuat Junio kesal. Ini masalah serius dan jawaban tadi membuat Junio kecewa.
“Ini datang begitu aja,” bela Junio tentang perasaannya.
“Setan yang goda lo. Setan yang nyuruh lo peduli lagi dengan masa lalu itu.”
“Sialan lo, Fik. Sekarang lo ngomong gue tersesat?”
Junio menjadi semakin panik. Dia mencuri-curi lihat ke dalam kamar, dilihatnya sosok Rasti masih belum tampak. Untunglah.
“Sabar, bro. Lo tahu kalau malam pertama adalah penantian semua pria. Termasuk lo! Lo pria yang malam ini akan membehagiakan istri karena permainan yang mantap! Dunia serasa milik berdua karena yang lain ngontrak!”
Junio tertawa juga mendengar lelucon payah sahabatnya.
“Jadi, fokus ke permainan sama Rasti aja, nih?”
“Yup. Never regret. Besok-besok jangan lupa cerita gimana malam ini, oke?” goda Fiki.
“Uh, enak saja.”
“Tutup telpon ini, kalau perlu buang ke tong sampah. Rasti pasti sudah menunggu, kan?”
Junio masih merasa ketakutan.
“Tarik nafas, Jun. Bernafas itu cara paling dasar untuk menenangkan jiwa. Coba teknik 4-7-8
Junio melakukannya. Caranya adalah dengan menghirup napas dari hidung selama 4 hitungan, tahan napas selama 7 hitungan, dan hembuskan napas dari mulut selama 8 hitungan. Nikmati rasa rileks yang hadir di tubuh dan pikiran.
“Udah rileks?” tanya Fiki.
“Dikit.”
“Coba lagi bernafas entar. Tapi tutup dulu telpon ini! Dan selamat menghangatkan malam!”
Sambungan teputus. Junio memasukkan ponselnya ke saku pakaian pernikahannya.
Junio melihat ke ruangan dan Rasti  belum keluar.

 

Pertemuan Cinta Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos