Showing posts with label BAB VII. Show all posts
Showing posts with label BAB VII. Show all posts

Sunday, January 1, 2012

Bab 7 Confession of A Broken Heart

Posted by Jason Abdul at 3:14 PM 0 comments

Rasti mual-mual lagi, kali ini morning sickness benar-benar menyakitkan. Perutnya seperti terkuras dan tak ada isinya lagi. Junio dengan lembut mengelus punggung Rasti dan membawa segelas air susu untuk ibu hamil. Rasti hampir menangis saat perutnya melilit.
            Junio memberikan gelas susu itu. “Minum ini dulu, sayang...”
            Jadi ibu hamil sungguh berat, banyak hal yang berubah pada tubuh mereka, banyak kesulitan yang mendekati. Mereka tak kuat lagi berdiri lama-lama, cepat lelah, atau perut yang tiba-tiba sakit.
            Rasti meneguk susu itu sedikit, tapi lidahnya mengecap rasa yang sangat aneh. “Rasanya aneh, Mas.”
            “Tahan aja rasanya, Ras. Susu ini penting buat kamu dan bayi kita.”
            Junio merangkul Rasti dan menuntun istrinya duduk di tempat tidur. Dia tak tahan melihat wajah Rasti yang pucat. Sekeliling tepi rambut Rasti juga berkeringat. Junio membersihkan keringat Rasti dengan tangannya.
            “Aku nggak bisa tidur semalaman,” kata Rasti.
            “Orang iseng itu masih ganggu lagi?” tanya Junio.
            Rasti mengangguk. “Mau dibiarin, dia tetap mengganggu. Kalau diladeni malah sembunyi.”
            Junio meminta Rasti untuk menghirup nafas yang dalam dan mengeluarkannya pelan. Bernafas sadar adalah cara menenangkan jiwa yang paling mudah.
            Sudah empat hari, Rasti diteror oleh seseorang. Dia dikirimi sms-sms kosong yang membuat inbox ponselnya penuh. Jika malam hari, orang itu menelpon, tapi tak menjawab jika Rasti mengangkatnya. Berkali-kali Rasti mengirimkan sms yang mengatakan kalau dia ingin tahu apa kesalahannya sehingga perlu diganggu.
            Rasti kelelahan, tapi tak mau tidur.
            Junio merasa dia tahu siapa pelakunya. Pasti Andy. Siapa lagi yang bisa berbuat nekat seperti itu pada keluarganya? Beginilah kalau orang jenis Andy itu sakit hati, perbuatan mereka bisa sangat nekat. Namun, terlalu pengecut untuk menampakkan diri.
            Junio sebenarnya juga di teror nomor asing, tapi dia tidak memperdulikannya. Dia tak mau Rasti tahu dan malah membuat istrinya semakin khawatir.
            “Begini saja, nanti kita pergi ke kantor pelayanan komunikasi untuk blokir nomor-nomor asing yang mengganggu. Oke?” ajak Junio.
            Rasti hanya mengangguk lagi.
            “Sekarang kamu tidur dulu, Ras. Nggak usah kerja dulu. Biar aku yang bilang ke kantor kamu.”
            Junio menidurkan Rasti pelan-pelan. Setelah Rasti merasa nyaman, Junio memberinya sebuah kecupan.
            “Aku sayang kamu, Ras. Sampai kapan pun...”
            “Aku percaya itu, Mas.”
           
 

Pertemuan Cinta Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos