Rasti mual-mual lagi,
kali ini morning sickness benar-benar
menyakitkan. Perutnya seperti terkuras dan tak ada isinya lagi. Junio dengan
lembut mengelus punggung Rasti dan membawa segelas air susu untuk ibu hamil. Rasti
hampir menangis saat perutnya melilit.
Junio memberikan gelas susu itu. “Minum ini dulu,
sayang...”
Jadi ibu hamil sungguh berat, banyak hal yang berubah
pada tubuh mereka, banyak kesulitan yang mendekati. Mereka tak kuat lagi
berdiri lama-lama, cepat lelah, atau perut yang tiba-tiba sakit.
Rasti meneguk susu itu sedikit, tapi lidahnya mengecap
rasa yang sangat aneh. “Rasanya aneh, Mas.”
“Tahan aja rasanya, Ras. Susu ini penting buat kamu dan
bayi kita.”
Junio merangkul Rasti dan menuntun istrinya duduk di
tempat tidur. Dia tak tahan melihat wajah Rasti yang pucat. Sekeliling tepi
rambut Rasti juga berkeringat. Junio membersihkan keringat Rasti dengan
tangannya.
“Aku nggak bisa tidur semalaman,” kata Rasti.
“Orang iseng itu masih ganggu lagi?” tanya Junio.
Rasti mengangguk. “Mau dibiarin, dia tetap mengganggu. Kalau
diladeni malah sembunyi.”
Junio meminta Rasti untuk menghirup nafas yang dalam dan
mengeluarkannya pelan. Bernafas sadar adalah cara menenangkan jiwa yang paling
mudah.
Sudah empat hari, Rasti diteror oleh seseorang. Dia
dikirimi sms-sms kosong yang membuat inbox
ponselnya penuh. Jika malam hari, orang itu menelpon, tapi tak menjawab jika
Rasti mengangkatnya. Berkali-kali Rasti mengirimkan sms yang mengatakan kalau
dia ingin tahu apa kesalahannya sehingga perlu diganggu.
Rasti kelelahan, tapi tak mau tidur.
Junio merasa dia tahu siapa pelakunya. Pasti Andy. Siapa
lagi yang bisa berbuat nekat seperti itu pada keluarganya? Beginilah kalau
orang jenis Andy itu sakit hati, perbuatan mereka bisa sangat nekat. Namun,
terlalu pengecut untuk menampakkan diri.
Junio sebenarnya juga di teror nomor asing, tapi dia
tidak memperdulikannya. Dia tak mau Rasti tahu dan malah membuat istrinya
semakin khawatir.
“Begini saja, nanti kita pergi ke kantor pelayanan
komunikasi untuk blokir nomor-nomor asing yang mengganggu. Oke?” ajak Junio.
Rasti hanya mengangguk lagi.
“Sekarang kamu tidur dulu, Ras. Nggak usah kerja dulu.
Biar aku yang bilang ke kantor kamu.”
Junio menidurkan Rasti pelan-pelan. Setelah Rasti merasa
nyaman, Junio memberinya sebuah kecupan.
“Aku sayang kamu, Ras. Sampai kapan pun...”
“Aku percaya itu, Mas.”