Showing posts with label BAB VI. Show all posts
Showing posts with label BAB VI. Show all posts

Sunday, January 1, 2012

Bab 6 Here We Go Again

Posted by Jason Abdul at 4:13 PM 0 comments
Rasti terlambat datang bulan, padahal biasanya selalu tepat waktu. Kali ini sudah tiga hari dia tidak menstruasi. Dia memberitahu Junio dan suaminya mengantarkan Rasti ke apotik untuk membeli alat tes kehamilan.
            Namun, kebahagiaan itu sedikit berkurang saat dia melihat hasil alat itu. Jika seseorang hamil, akan ada dua garis yang tampak jelas, sedangkan punya Rasti hanya satu yang jelas dan yang lain buram.
            “Apa aku nggak hamil, Mas?” tanya Rasti menunjukkan pada Junio hasil tes. “Mungkin ini terlambat sebentar, nanti bakal mens lagi.”
            “Sabar aja dulu, Sayang,” kata Junio membelai pipi istrinya.
            “Barangkali Tuhan mengujiku lagi. Dulu nggak mau anak, sekarang menanti-nantikan. Dia sebal kali sama orang plin-plan.”
            Junio tertawa mendengar keluh kesah istrinya. Ekspresi Rasti marah selalu membuatnya tertawa.
            “Malah tertawa! Aku serius, nih!”
            “Coba kita cari tahu di internet, siapa tahu ada jawaban kebingungan ini,” ajak Junio. Dia mengambil laptop, menghidupkannya, kemudian menyalakan koneksi internet. Dengan cepat diketiknya kata kunci pada search engine Google. Begitu banyak pilihan, kemudian dikliknya pada salah satu blog kesehatan.
            Tertulis di sana agar mereka membeli tes kehamilan jenis Hcg+ yang lebih akurat hasilnya. Alat ini bukan memberi indikator dua garis, namun lambang positif (+) atau negatif (-). Untung ada internet, Rasti jadi bisa mengembalikan mood baiknya.
            Aku akan hamil, batin Rasti. Junio akan bahagia.
            Sayangnya, hasil tes lagi-lagi mengatakan Rasti negatif hamil.
Junio memeluk istrinya yang menangis. “Tenang, kita pasti bakal punya anak.”
Sepanjang malam, Rasti menelpon mamanya. Dia curhat segala hal tentang hamil, melahirkan, sampai mengasuh anak.
“Mama memberi kamu ASI eksklusif hingga dua tahun, nggak mau tuh pakai susu formula. Katanya biar anak pintar, padahal hanya ASI pun membuat pintar dan badan bayi lebih sehat.”
“Ma..., Rasti kecewa banget tiap kali hasilnya negatif. Padahal udah beberapa hari terlambat mens.”
“Coba tunggu sekitar tiga hari lagi, Sayang. Terus kamu tes lagi. Oke. Sekarang jaga saja kesehatan, banyakin makan yang bergizi. Jangan sampai tubuhmu terlalu lelah karena kerja. Pikiran  pun mempengauhi. Jadi, Biasakan selalu berfikir positif.”
            Rasti mengiyakan. Kemudian dia kembali melihat alat tes kehamilannya. Masih negatif. Andaikan yang tertera di sana adalah positif, jadi dia bisa berfikir positif.

Riana datang berkunjung ke rumah Rasti. Membuat kakaknya senang bukan main. Dia memang butuh sahabat wanita yang bisa saling mengerti. Rasti menceritakan dia belum hamil, padahal tanda-tanda sudah ada. Rasti makan lebih banyak, mual-mual saat mencium bau menyengat, dan kakinya sangat cepat letih.
            “Sabar aja, Kak. Suatu saat kita semua bakal menyambut kelahiran seorang bayi mungil.” Lalu dia mengambil sebuah Tupperware dari dalam tasnya. “Mama nitip ini buat kakak.
            “Apa ini?”
            “Black forest. Mama lagi kepengen bikin terus di bagi-bagikan.”
            Mata Rasti melihat ke luar, mencari sosok seseorang. Karena tak ada, dia bertanya pada Riana.
            “Kamu nggak bareng pacarmu?”
            Riana menggeleng. “Kami lagi marahan.”
Rasti menanyakan alasannya. Tumben sekali pasangan ini bertengkar.
“Aku sebal sama sikapnya yang kenakak-kanakan. Akhir-akhir ini malah menjadi-jadi, Kak.”
            Rasti tersenyum. Begitulah kalau hubungan pacaran, jika sedang marahan bisa pergi kemana sesuka hati padahal masalah masih ada di sana belum terselesaikan. Jika sudah menikah, mau tak mau masalah harus diselesaikan secepatnya. Tak bisa pura-pura salah satu tidak ada di rumah.
            “Sabar aja. Laki-laki memang kadang bikin kita kayak pengasuh,” kata Rasti sambil teringat pada pacar-pacarnya dulu.
            Lagipula Rasti heran, biasanya Riana dan pacarnya selalu seiya-sekata.
            “Sekarang pikirannya berubah jadi nggak mau nikah dalam waktu dekat.” Riana memutuskan untuk mengatakan hal yang sebenarnya. “Plin-plan atau penakut? Kalau Kakak tahu, kami punya buku catatan sendiri yang berisi rencana jika kami menikah. Malu rasanya kalau baca lagi, kayaknya nggak bakal terjadi.”
            Rasti membelai lembut punggung Riana. “Kalian mungkin memang perlu waktu untuk berpisah sebentar dan merenungkan lagi semuanya.”
            Riana mengangguk. Bibirnya yang dari tadi tertekuk sekarang mengulas senyuman.
            “Sebenarnya, aku ada satu permintaan, Kak,” kata Riana. “Bukan tentang pacarku sih, tapi ada temanku, Laura, yang punya saudara sepupu bernama Hani. Katanya si Hani ini nggak suka sosialisasi sama siapa pun. Jadi, temanku minta aku mau jadi teman si Hani. Sekalian ajarin dia gimana bersikap “normal”. Katanya lagi, si Hani suka ngomong kasar.”
            “Trus, kamu minta apa sama Kakak?”
            “Temani aku, aku perlu lebih banyak orang. Sebenarnya pacarku yang akan ikut, tapi tahu sendiri dia nggak bakal mau.”
            “Oke, nggak masalah, kok. Kapan waktunya?”
            Riana memberitahu tempat dan waktu pertemuan. Di hari itu Rasti memang tidak bekerja, jadi dia akan pergi. Riana mengucapkan terima kasih.

 

Pertemuan Cinta Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos