Rasti terlambat datang
bulan, padahal biasanya selalu tepat waktu. Kali ini sudah tiga hari dia tidak
menstruasi. Dia memberitahu Junio dan suaminya mengantarkan Rasti ke apotik
untuk membeli alat tes kehamilan.
Namun, kebahagiaan itu sedikit berkurang saat dia melihat
hasil alat itu. Jika seseorang hamil, akan ada dua garis yang tampak jelas,
sedangkan punya Rasti hanya satu yang jelas dan yang lain buram.
“Apa aku nggak hamil, Mas?” tanya Rasti menunjukkan pada
Junio hasil tes. “Mungkin ini terlambat sebentar, nanti bakal mens lagi.”
“Sabar aja dulu, Sayang,” kata Junio membelai pipi
istrinya.
“Barangkali Tuhan mengujiku lagi. Dulu nggak mau anak,
sekarang menanti-nantikan. Dia sebal kali sama orang plin-plan.”
Junio tertawa mendengar keluh kesah istrinya. Ekspresi Rasti
marah selalu membuatnya tertawa.
“Malah tertawa! Aku serius, nih!”
“Coba kita cari tahu di internet, siapa tahu ada jawaban
kebingungan ini,” ajak Junio. Dia mengambil laptop, menghidupkannya, kemudian
menyalakan koneksi internet. Dengan cepat diketiknya kata kunci pada search engine Google. Begitu banyak
pilihan, kemudian dikliknya pada salah satu blog kesehatan.
Tertulis di sana agar mereka membeli tes kehamilan jenis
Hcg+ yang lebih akurat hasilnya. Alat ini bukan memberi indikator dua garis,
namun lambang positif (+) atau negatif (-). Untung ada internet, Rasti jadi
bisa mengembalikan mood baiknya.
Aku akan hamil, batin Rasti. Junio akan bahagia.
Sayangnya, hasil tes lagi-lagi mengatakan Rasti negatif
hamil.
Junio memeluk istrinya yang menangis. “Tenang, kita pasti bakal punya
anak.”
Sepanjang malam, Rasti menelpon mamanya. Dia curhat segala hal tentang
hamil, melahirkan, sampai mengasuh anak.
“Mama memberi kamu ASI eksklusif hingga dua tahun, nggak mau tuh pakai
susu formula. Katanya biar anak pintar, padahal hanya ASI pun membuat pintar
dan badan bayi lebih sehat.”
“Ma..., Rasti kecewa banget tiap kali hasilnya negatif. Padahal udah
beberapa hari terlambat mens.”
“Coba tunggu sekitar tiga hari lagi, Sayang. Terus kamu tes lagi. Oke. Sekarang
jaga saja kesehatan, banyakin makan yang bergizi. Jangan sampai tubuhmu terlalu
lelah karena kerja. Pikiran pun
mempengauhi. Jadi, Biasakan selalu berfikir positif.”
Rasti mengiyakan. Kemudian dia kembali melihat alat tes
kehamilannya. Masih negatif. Andaikan yang tertera di sana adalah positif, jadi
dia bisa berfikir positif.
Riana datang berkunjung
ke rumah Rasti. Membuat kakaknya senang bukan main. Dia memang butuh sahabat
wanita yang bisa saling mengerti. Rasti menceritakan dia belum hamil, padahal
tanda-tanda sudah ada. Rasti makan lebih banyak, mual-mual saat mencium bau
menyengat, dan kakinya sangat cepat letih.
“Sabar aja, Kak. Suatu saat kita semua bakal menyambut
kelahiran seorang bayi mungil.” Lalu dia mengambil sebuah Tupperware dari dalam tasnya. “Mama nitip ini buat kakak.
“Apa ini?”
“Black forest.
Mama lagi kepengen bikin terus di bagi-bagikan.”
Mata Rasti melihat ke luar, mencari sosok seseorang. Karena
tak ada, dia bertanya pada Riana.
“Kamu nggak bareng pacarmu?”
Riana menggeleng. “Kami lagi marahan.”
Rasti menanyakan alasannya. Tumben sekali pasangan ini bertengkar.
“Aku sebal sama sikapnya yang kenakak-kanakan. Akhir-akhir ini malah
menjadi-jadi, Kak.”
Rasti tersenyum. Begitulah kalau hubungan pacaran, jika
sedang marahan bisa pergi kemana sesuka hati padahal masalah masih ada di sana
belum terselesaikan. Jika sudah menikah, mau tak mau masalah harus diselesaikan
secepatnya. Tak bisa pura-pura salah satu tidak ada di rumah.
“Sabar aja. Laki-laki memang kadang bikin kita kayak
pengasuh,” kata Rasti sambil teringat pada pacar-pacarnya dulu.
Lagipula Rasti heran, biasanya Riana dan pacarnya selalu
seiya-sekata.
“Sekarang pikirannya berubah jadi nggak mau nikah dalam
waktu dekat.” Riana memutuskan untuk mengatakan hal yang sebenarnya. “Plin-plan
atau penakut? Kalau Kakak tahu, kami punya buku catatan sendiri yang berisi
rencana jika kami menikah. Malu rasanya kalau baca lagi, kayaknya nggak bakal
terjadi.”
Rasti membelai lembut punggung Riana. “Kalian mungkin
memang perlu waktu untuk berpisah sebentar dan merenungkan lagi semuanya.”
Riana mengangguk. Bibirnya yang dari tadi tertekuk
sekarang mengulas senyuman.
“Sebenarnya, aku ada satu permintaan, Kak,” kata Riana. “Bukan
tentang pacarku sih, tapi ada temanku, Laura, yang punya saudara sepupu bernama
Hani. Katanya si Hani ini nggak suka sosialisasi sama siapa pun. Jadi, temanku
minta aku mau jadi teman si Hani. Sekalian ajarin dia gimana bersikap “normal”.
Katanya lagi, si Hani suka ngomong kasar.”
“Trus, kamu minta apa sama Kakak?”
“Temani aku, aku perlu lebih banyak orang. Sebenarnya
pacarku yang akan ikut, tapi tahu sendiri dia nggak bakal mau.”
“Oke, nggak masalah, kok. Kapan waktunya?”
Riana memberitahu tempat dan waktu pertemuan. Di hari itu
Rasti memang tidak bekerja, jadi dia akan pergi. Riana mengucapkan terima
kasih.