Setelah cukup lama cuti
karena disibukkan urusan pernikahan, Rasti akhirnya kembali ke kantor. Dia di
sambut dengan meriah oleh para karyawan di sana. Kejutan besar bagi penganting
baru! Untung saja Rasti sudah berniat membawa beberapa kue dan makanan untuk rekan di kantor. Sebagian memang
tidak hadir saat pesta pernikahannya.
“Selain ucapan jadi pengantin baru, saya juga mengucapkan
selamat atas terpilihnya ibu sebagai nominasi karyawan terbaik tahun ini.”
Rasti menatap tak percaya pada sekretarisnya. Sekretarisnya
mengangguk. Rasti menggeleng.
“Lihat di papan pengumuman saja, Bu,” saran
sekretarisnya.
Ternyata benar! Rasti memekik bersama bawahannya. Akhirnya
kinerjanya yang baik dihargai kantor. Walau pun dia tidak berambisi menjadi
karyawa terbaik, namun hal ini bisa menjadi pegangannya untuk karir ke depan. Siapa
tahu ada promosi kenaikan pangkat.
Rasti masuk ke ruangannya untuk menelpon Junio.
“Sayang, kamu lagi dimana?” tanya Rasti.
“Di Kieree. Ada apa sayang, kayaknya bahagia sekali.” Junio
bisa merasakannya. Rasti semakin mengembang dadanya.
“Aku jadi salah satu kandidat karyawan terbaik tahun ini.
Can you believe it?” tanya Rasti.
“I believe because
you deserve to get it. Walau pun aku nggak pernah datang ke kantormu buat
lihat kamu kerja kayak gimana. Kamu senang banget, ya? Kita rayakan, yuk?”
Sepertinya pesta bertubi-tubi akan mereka jalani.
Rasti teringat tentang perkataan Junio tentang pasangan
sumi istri itu setelah pernikahan pasti mendapat rezeki yang tak
disangka-sangka.
“Yakin sama Tuhan. Dia bakal bantu.”
Kemudian mereka janjian untuk makan siang di sebuah
restoran mewah.
“Biar aku yang reservasi,” kata Junio.
“Terima kasih banget, sayang! Love you so much! Muach!”
“Muach!!”
Pekerjaan seharian itu
terasa sangat ringan. Senyuman terus saja berada di bibir Rasti. Pada saat
pelaporan oleh para account officer, Rasti membuat mereka nyaman dengan
pertayaan-pertanyaan yang bagus. Bukan pertanyaan seorang yang sedang patah
hati beberapa waktu dulu.
“Lidia, saya pergi makan siang dulu, yah!” kata Rasti
saat dia keluar dari ruangannya.
“Makan dimana, Bu? Gabung sama kita aja!”
“Saya sudah janji sama suami saya mau makan siang
bersama.” Rasti senang saat mengucapkan “suami saya”, membuat sekeretarisnya
iri saja.
“Deuh... mesra banget. Pengen deh punya suami kayak Pak
Junio.”
Rasti menggeleng. “Jangan, gak bakal bisa. Junio saya
hanya satu-satunya di dunia.”
Lidia tertawa, begitu juga Rasti.
“Ah, ibu ada-ada saja. Kalau begitu selamat makan siang. Salam
ya untuk suami ganteng ibu.”
Rasti menagangguk dan berlalu dari sana. Rasti dan Lidia
sudah biasa bergurau seperti itu jadi dia tak menganggap serius sekretarisnya
yang tiba-tiba jadi penggemar Junio. Pastinya, Rasti tidak akan membiarkan
siapa pun merebut Junio.
Dia geli sendiri tentang pikirannya yang jadi istri
pencemburu.
Dengan langkah santai, dia melaju ke restoran tempat
mereka janjian.
Dua jam yang lalu, saat
Rasti sibuk dengan berkas-berkas di kantornya, Junio berada di toko Kieree
untuk melaksanakan tugasnya. Sekarang adalah pemberian motivasi rutin pada
karyawan toko. Dilanjutkan dengan Junio mengamati bagaimana mereka melayani
para konsumen. Jika ada yang kurang bagus, akan segera dia beritahu. Dia kadang
merasa seperti mandor di pabrik.
Kemudian ponselnya berbunyi. Nama Rasti tertera di layar.
Ternyata sang istri ingin mengabarkan kalau dia terpilih jadi kandidat karyawan
terbaik. Junio mengajaknya makan siang bersama.
Junio berkeliling toko, melihat kalau-kalau ada barang
disana yang letaknya kurang pas.
Dua orang pria datang ke toko itu. Junio bersiap untuk
mengamati salah satu karyawan yang melayani mereka. Tapi, setelah melihat wajah
pria yang masuk ke tokonya, Junio langsung balik badan.
Itu dia! Kenapa
dia ada di sini?
Junio begitu kaget sehingga spontan dia membalikkan
badan. Takut jika orang itu memergokinya. Aneh, padahal ini adalah toko tempat
dia bekerja.
“Selamat datang, pak! Ada yang bisa kami bantu carikan?”
Suara karyawan toko terdengar di belakang Junio.
Junio melirik sedikit, namun tanpa direncanakan matanya
dan mata pria itu bertemu.
Junio bergegas memalingkan wajah. Dia tak sanggup lagi. Dia
harus pergi dari sini. Secepatnya Junio pergi ke ruangannya di bagian belakang
toko.
Junio mencoba menormalkan detak jantungnya. Dia duduk di
kursi dengan lemas. Sungguh dia tidak mengira pria itu berani datang ke sini. Malah
dia pergi dengan orang lain yang tidak Junio kenal.
Lalu memangnya kenapa kalau pria itu bersama dengan orang
asing? Junio cemburu?
Tidak! Junio menyangkal dalam hati. Dia yang pergi, tak mungin dia yang
menjadi pencemburu seperti itu. Bukan dia yang pantas menderita... namun, dia
tak bisa menahan rasa ganjil di dadanya.
Junio bergerak ke tepi pintu dimana dia bisa mengintip ke dalam toko. Matanya
mencari-cari sosok yang kadang dirindukannya. Tampak oleh Junio pria itu sedang
membantu temannya memilihkan sweater. Dia mengambil sweater bewarna hijau
lembut... warna yang disukai Junio.
Kejadian itu membuat Junio teringat bahwa mereka sama-sama suka wana
hijau. Kadang mereka sepakat memakai pakaian yang sewarna.
Junio masih mengintip selama pria itu berada di tokonya.
Ingin sekali Junio menyapa pria itu... tapi tidak mungkin. Semua yang
berhubungan dengannya adalah masa lalu. Sekarang sudah ada Rasti dalam hidup
Junio.
Dan Rasti terlalu berharga untuk dikecewakan.
Jika keadaanya seperti ini, Junio membutuhkan nasihat dari sahabatnya. Hanya
dia yang bisa memberikan kata-kata yang logis aga Junio bisa memilih sikap. Selalu
seperti ini. Mudah-mudahan Fiki tidak marah jika dia diganggu untuk masalah
yang itu-itu saja.
Suara RBT di sana sedikit pun tidak membuat Junio nyaman. Fiki lama sekali
menjawab teleponnya.
Setelah satu menit, “Halo?” Akhirnya Fiki tahu ponselnya berbunyi!
“Fiki, lagi sibuk?” tanya Junio. Dia harus menanyakan hal itu jika
menghubungi Fiki di siang hari.
“Pokoknya nggak bisa begitu, pak! Kita kan sudah mulai kesepakatan ini
dari sana. Bukankah sebaiknya dipertahankan?” Rupanya Fiki sedang berbicara
dengan orang lain.
“Lo lagi sibuk, ya?”
“Halo? Jun, sori banget. Gue lagi meeting, tapi ada apa?”
“Eh, gue nelponya ntar aja. Gue ganggu lo.”
Fiki berbicara lagi dengan orang di seberang sana. Junio ingin menutup
telepon ini.
“Ada apa, Jun? Sori, lagi meeting.”
“Sudah lo bilang tadi kan? Nanti aja gue telpon lagi.”
“Jun, sekalian nanti ingetin gue buat ngasi tahu lo sesuatu.”
“Apaan?”
“Nanti aja. Pokoknya mantap. Oke, see
you.”
Sambungan dimatikan Fiki.
Kalau begini Junio harus bagaimana. Apalagi setelah itu seorang
karayawannya memanggil padahal dia masih ada di balik pintu. Tentu saja
karyawannya heran melihat tingkah Junio yang aneh seperti bersembunyi dari
sesuatu.
“Ada apa, Nuke?” tanya Junio dengan nada profesional seorang manajer.
Nuke menyerahkan beberapa kertas nota untuk ditandatangani Junio.
“Apa masih ada pembeli di sana?” tanya Junio setelah selesai dengan
seluruh nota itu, dia menunjuk ke bagian toko.
“Ada, pak! Sepasang suami istri.”
“Dua orang pria tadi?” Junio penasaran.
“Sudah pergi. Ada apa, Pak?” tanya Nuke. Seharusnya Junio tak usah
bertanya pada karyawan yang punya rasa ingin tahu berlebih seperti Nuke ini.
Junio menghela nafas lega. Setidaknya pria itu sudah tak ada di tokonya,
walau pun mungkin saja masih jalan-jalan keliling mal ini. Junio mencari cara
agar mereka tidak bertemu. Jangan sampai bertemu!
Restoran itu sudah ramai
oleh pengunjung. Salah satu tempat makan siang favorit yang tak pernah sepi,
selalu saja dipilih oleh para karyawan yang bekerja di perkantoran sekitarnya. Padahal
ini bukan restoran biasa, biaya makan disini tidak murah. Rasti sering
membayangkan berapa gaji orang-orang ini jika mereka setiap hari makan siang di
sini.
Dengan kebahagiaan masih ada di hati, Rasti setia
menunggu suaminya. Dia duduk di salah satu meja yang sudah direservasi oleh
Junio. Dia duduk dengan anggun dan merasa sedang menunggu pangerannya. Rasti
melihat ke sekeliling, kemudian memutuskan bahwa dirinyalah yang paling
berbehagia siang itu.
Junio sedikit terlambat, mungkin macet, pikir Rasti. Dia
menelpon untuk mengetahui keberadaan Junio.
“Aku sudah hampir
sampai. Tadi macet,” kata Junio. “Maaf ya, Sayang...”
“Nggak apa-apa. Apa perlu kupesankan dulu?”
“Ya, boleh. Tiga menit lagi aku pasti sudah sampai.”
Akhirnya Rasti memesan makanan. Tak lebih dari tiga
menit, Junio muncul dan langsung duduk di sebelah Rasti. Dengan sedikit kagok,
Rasti berdiri dan Junio memberinya kecupan di pipi. Besok-besok, Rasti harus
sudah terbiasa dengan kemesraan di depan umum ini. Junio juga merasa aneh
melakukannya, tapi senang.
“Lihat apa yang kubawa,” kata Junio sambil menyerahkan
sebuah kotak Tupperware.
“Wah. Es krim!”
“Buat dimakan pas mau ke kantor lagi. Bon appétit!”
Rasti berterima kasih. “Aku baru ingat kalau salah satu
alasanku mau jadi istri Mas adalah biar bisa gratis makan es krim sepuasnya,”
katanya sambil tertawa kecil.
“Oh, ya? Impianmu terkabul dong?” tanya Junio, wajahnya
berubah muram.
“Tapi... aku ternyata mendapatkan bonus yang sangat
indah.”
Junio langsung tersenyum kembali.
Mereka saling menatap dalam. Merasakan cinta itu semakin
tumbuh di dalam hati. Betapa bahagianya punya orang tempat kita berbagi. Junio
melupakan apa pun kejadian tadi di tokonya.
Pesanan mereka datang. Mereka melanjutkan obrolan sambil
makan. Rasti dengan semangat menceritakan keadaan kantor pagi ini. Sambutan
para rekan sekantornya begitu meriah. Seandanya saja Junio ada di sana untuk
menggenapkan kebahagiaan.
Rasti juga cerita kalau dia direkomendasikan oleh bosnya
sendiri untuk jadi kandidat karyawan terbaik. “Aku nggak terlalu mengharapkan
jadi pemenangnya, tapi kata bosku, kalau aku bisa mempertahankan peforma kerja
hingga tahun depan aku bisa dapat promosi kenaikan jabatan. Untungnya jadi
kandidat, kita lebih gampang dapat promosi.”
Junio mendengarkan Rasti dengan seksama, sampai matanya
menangkap seseorang yang duduk di meja lain di dekat mereka. Apa itu dia lagi? Junio kaget. Dia mencoba lebih
memperhatikan ke arah sana... ternyata bukan. Untung saja.
“Ada apa, sayang?” tanya Rasti sambil menoleh ke
belakangnya. “Ada seseorang yang kamu kenal?”
Junio menggeleng.
“Atau ceritaku membosankan?” tanya Rasti lagi. Dia
khawatir Junio akan menganggapnya egois karena bercerita panjang lebar hanya
tentang diri dan pekerjaannya. “Bagaimana kerja kamu tadi, Sayang?
“Aku senang mendengar ceritamu, Rasti. Lanjutkan saja.”
Rasti menolak. “Aku lihat kamu nggak fokus, Mas. Aku
pikir memang ceritaku memang membosankan.”
Junio meraih tangan Rasti, menggenggamnya. “Tadi di toko
ada hal yang nggak terlalu baik.”
“Ada apa?”
Junio berfikir cepat. “Karyawanku bikin pelanggan
menunggu terlalu lama dan mereka komplain. Aku yang mengatasinya.”
“Oh, masalahnya sudah selesai, kan?”
“Pasti.”
Junio berbohong. Untuk pertama kalinya pria itu
mengatakan hal bohong pada Rasti. Dia merasa bersalah. Sejujurnya Junio
menginginkan dia selalu percaya pada Rasti dan sebaliknya. Sekarang dia
berbohong. Tapi kalau untuk kebaikan tak masalah, kan?
Kalau Rasti tahu sebenarnya keadaan bisa makin kacau.
Menjadi seorang istri
membuat Rasti memiliki peran tambahan. Dia harus mengurus rumah tangganya,
apalagi kalau tidak memiliki pembantu rumah tangga. Ini memang permintaan Rasti
untuk tidak menggaji seorang pembantu selagi dia masih bisa mengerjakannya
sendiri. Memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan lain-lain. Kalau memiliki
anak pasti semakin kesusahan.
Rasti wanit karir, dia tak ingin menjadi ibu rumah
tangga. Dia ingin jadi wanita karir yang juga bisa mengurus rumah dan
menyenangkan suami. Walau pun sebenarnya keakutan ada di hatinya melihat bahwa
sulit sekali menjadi seperti itu. suatu saat dia akan jenuh dengan label multitasking.
Wanita memang hebat. Mereka bisa melakukan banyak hal dan
mengerjakannya dengan baik. Berkarir, mengurus rumah, kemudian jadi ibu; semua
bisa dilakukan sekaligus. Itulah mengapa banyak wanita lebih tangguh dan kuat.
Rasti suka membaca profil waanita yang berprestasi dan benci sekali ada pihak
yang merugikan kaum perempuan.
Dia tangguh dan bisa mengurus rumah tangganya, batinnya
menyemangati diri sendiri.
Rasti menatap jam di dinding. Sudah jam 19.00, berarti
satu sentengah jam dia membersihkan rumah, memasukkan pakaian kotor ke mesin
cuci, dan mamasak. Dia lelah, tapi puas. Inilah Rasti, istri Junio yang
membanggakan.
Rasti menanti kedatangan suaminya dengan menonton
televisi. Setelah bosan, dia mengambil novel yang belum sempat di bacanya.
Akhirnya Junio pulang setengah jam kemudian.
Rasti menyambut pria itu di pintu dan memberinya pelukan.
“Aku kangen banget!” kata Rasti.
“Aku juga!”
Mereka masuk ke rumah berangkulan. Padahal baru bertemu
siang tadi tapi rindu itu sudah ada. Tak ada obatnya selain pertemuan dengan
sang cinta.
“Aku sudah siapkan makan malam. Tunggu sebentar, aku
rapikan meja, ya? Kamu mandi saja dulu...” Rasti bergegas ke dapur
menghangatkan makanan yang dimasaknya tadi.
Junio benar-benar merasa bahagia. Inilah yang dia
harapkan, seorang sitri yang setia memberi kasih sayang. Dia tak ingin ini
berakhir, walau pun faktanya semua pasangan muda memiliki gairah yang besar di
awal pernikahan tapi semakin redup setelah bertahun-tahun. Junio penasaran,
bagaimana keadaan hubungan mereka setelah sepuluh tahun? Atau mereka tak akan
bersama lagi pada saat itu?
Apa pun bisa terjadi di masa depan, kan? Mungkin sebuah
rahasia yang terungkap?
Junio menepis pikiran-pikiran buruk dari otaknya. Dia
teringat salah satu nasihat dari ahli holistik adalah jangan membayangkan hal
yang belum terjadi, atau menyesali yang sudah berlalu. Pikirkan hal yang
sekarang, sini-kini-gini (here, now, as it is). Junio tahu, tapi
aplikasinya sulit.
Dia menghirup nafas dan melepaskannya pelan.
Saat makan malam, mereka saling bercerita tentang banyak
hal, mulai dari tentang mereka, buku yang sedang dibaca dan masalah politik
saat ini. Mereka mengobrol selancar air di sungai yang jerning. Selalu
nyambung.
Junio teringat kalau dia harus menelpon Fiki. Setelah
makan malam, saat Rasti mengerjakan tugas kantornya, Junio pergi ke teras rumah
untuk menelpon. Dia duduk di meja kopi yang menghadap ke taman rumah mereka
yang indah.
“Jadi tadi mau ngomongin apa, bro?” tanya Junio pada
Fiki.
“Sori banget tadi
gue nggak bisa ngomong banyak. Sakit
kepala gue mikirin proyek yang banyak kendala gini.”
Junio mengatakan kalau dia tidak kesal pada sahabatnya
itu.
“Jadi, tadi lo mau curhat apa?” tanya Fiki.
“Dia muncul lagi. Tapi bukan di pikiran gue, dia datang
ke toko gue bareng orang lain!”
“Duh, ngapain dia kayak itu. bikin kesal aja. Terus, lo nggak kepikiran buat nyamperin, kan?”
“Gue langsung sembunyi pas lihat dia. Mudah-mudahan aja
dia nggak lihat gue.”
“Bagus.”
“Tapi gue jadi kepikiran, bahkan orang asing yang gue
lihat di restoran tiba-tiba aja mirip dia. Kacau gue...”
“Emang kacau. Pikirin bini lo aja! Jangan yang lain,
oke?” kata Fiki dengan intonasi
penekanan pada kata ’bini’. “Dan biar lo
bisa lupain somebody nothing itu,
gue punya rencana buat bikin after
wedding party.”
“After wedding—what?” tanya Junio.
“After wedding party, nggak
mungkin lo nggak tahu.” Fiki tertawa.
“Tahu lah! Gue dan Rasti nggak punya rencana buat itu,
bro. Lagian kita udah mulai masuk kerja lagi, nggak kepikiran buat ngurus pesta
begituan.”
“Tenang aja, Jun. Gue
yang ngurus.”
Junio tertawa meledek. “Lo masih merasa kurang sibuk?”
“Anggap aja ini
hadiah gue buat lo berdua. Gue udah
ketemu sama William yang punya bar itu. Kami
udah sepakat bikin acara buat kalian. Dan
masalah duit gue yang nanggung.”
“Gue tanyain dulu ke Rasti, ya? Gue tergantung Rasti. Kalau
dia mau, gue ikut.”
“Deuh, setia banget lo! Iri gue.” Fiki tertawa lebih keras.
Junio juga tertawa.
Junio memberitahu Rasti
perihal pesta yang dirancang Fiki itu. Istrinya langsung setuju dan bersemangat
dengan ide itu.
“Kamu bisa ajak teman-temanmu, Mas. Kenalin aku pada
mereka. Aku juga bisa ajak teman-temanku. Nanti aku tahu kelompok sosial kita,”
kata Rasti.
Junio sepakat dengan istrinya.
“Kamu sudah selesai bikin tugas kantor?” tanya Junio.
“Belum. Ini masih ada kira-kira sepertiga lagi.”
“Buat besok?”
“Nggak sih, tapi aku lebih suka ngerjain sekarang biar
ada waku luang besok untuk mempelajarinya sebelum meeting dengan direksi. Kamu
tahu, kan, aku suka merencanakan banyak hal.”
Junio duduk di sebelah Rasti. Kemudian lengannya
merangkul pinggang istrinya. Kepalanya disandarkan pada pundak Rasti yang
kecil. Dia merasa jadi seorang bayi besar.
Rasti geli tapi menikmati.
“Aku mau menemanimu sampai kamu selesai,” bisik Junio di
telinga Rasti.
“Kamu tampak kecapekan Mas. Tidur duluan saja, sayang...”
Junio tak beranjak sedikit pun. Akhirnya Rasti membiarkan
suaminya bermanja-manja seperti itu. Beberapa lama hanya suara ketikan di
laptop yang terdengar. Rasti ingin membuka pembicaraan lagi.
“Mas, apa kamu pengen punya anak secepatnya?” tanya
Rasti. Diliriknya sang suami, penasaran ingin melihat apa ekspresinya. Beberapa
pria yang menginginkan anak secepatnya akan mempertanyakan perkataan Rasti
tadi. Tapi Rasti tidak melihat wjah suaminya berubah heran.
“Kapan dikaruniai Tuhan saja...,” kata Junio.
“Bagaimana kalau pakai alat untuk menunda kehamilan.”
Kepala Junio terangkat. Matanya menyipit dan kepalanya
menggeleng. “Jangan.”
Rasti bertanya kenapa suaminya berkata seperti itu.
“Aku pengen kita diberi anak sama Tuhan kapan pun dia mau
kasih. Kejutan... saat kita tiba-tiba diberi kebahagiaan,”
Rasti melepaskan jemarinya dari atas laptop. “Aku lebih
suka kita menunda sampai satu atau satu setengah tahun. Aku masih pengen
mengembangkan karirku. Promosi kira-kira tahun depan, Mas. Kalau punya anak...”
Junio memeluk istrinya. “Aku percaya padamu. Kamu bisa
lakuin semuanya. Tapi biar Tuhan yang berkehendak, ya, sayang?”
Rasti tak mengerti jalan pikiran Junio tentang yang satu
ini. Dia benar-benar bertekad untuk berprestasi di kantor. Contohnya saja dia
membuat laporan ini satu hari sebelum dia harus mempresentasikannya. Kalau
untuk karir, sekali dia berkata ingin, dia akan melakukan sepenuh hati.
“Nggak usah pakai KB dulu untuk menundanya. KB buat yang
udah punya dua anak. Banyak yang menanti-nantikan buah hati, kenapa kita malah
ingin menundanya?”
Rasti hanya menatap Junio dengan sendu. Mereka tetap tak
sepakat. Padahal Rasti ingin memberikan pengertian pada Junio kalau dia
tiba-tiba hamil dalam waktu dekat, karirnya akan tertunda. Dia harus mengulang
semua, menunggu setahun atau dua tahun lagi untuk promosi kenaikan jabatan
karena harus mengurus anak. Kenapa Junio bisa berfikiran kalau Rasti ‘menghalangi’
kehendak Tuhan.
“Mas jarang merencanakan sesuatu, ya?” tanya Rasti.
“Yup, buktinya aku bertemu denganmu, sayang. Kuasa Tuhan
lebih hebat dari kehendak manusia.”
Rasti merasa sedang berhadapan dengan guru spiritual yang
penuh spontanitas. Tubuhnya membeku.
Junio menyadari itu, tapi dia tak bisa berbohong tentang
apa yang diinginkannya. Dia mau memperoleh anak kapan saja, sebuah karunia yang
datang tak terduga. Dilihatnya wajah Rasti berubah mendung. Bagi Junio, Rasti
pasti bsa melaksanakan semua sendiri, tapi mereka butuh pembantu dan pengasuh
nantinya. Rasti bisa memberikan kepercayaan mengasuh anak pada jasa
profesional. Tuhan memberi sesuai kadar kemampuan manusia, kan?
Diberinya sebuah kecupan di pipi Rasti. “Sayang, tenang
saja... Tuhan sayang padamu, kok. Nggak
bakal ngecewakan.”
“Aku tahu, Mas. Aku tahu,” kata Rasti sambil merangkul
suaminya.
Pak Affandi memberi
selamat pada Rasti karena telah memberikan presentasi yang bagus pada pertemuan
dengan beberapa pemegang saham dari sebuah perusahaan properti. Kali ini dia
melakukan dengan hampir sempurna—jika sempurna itu tak ada seperti kata
kakaknya, Rio. Peserta meeting yang lain juga tak lupa bersalaman dengannya. Rasti
sedang di atas angin.
“Kamu memang pantas mengerjakan hal yang kompleks
daripada sekedar ngurusin para account
officer,” kata Pak Affandi.
Rasti hanya bisa mengucapkan terima kasih pada pujian
itu.
Kemudian, bosnya itu memberitahu pada orang-orang di sana
kalau Rasti baru saja menikah. Kontan mereka mengucapkan selamat menempuh hidup
baru.
“Suami kamu beruntung sekali pastinya,” komentar salah
seorang di sana.
“Benar itu, mudah-mudahan kamu tidak salah pilih ya?”
Rasti tidak suka ada orang lain mengatakan hal itu. Dia sudah
berada dalam sebuah rumah tangga, sulit baginya untuk mundur lagi. Mempertahankan,
itu yang paling penting sekarang, kan? Walau pun mereka kadang tidak sepakat
dalam beberapa hal.
Kemudian semua orang keluar dari ruangan. Sebelum mereka
menuju tujuan masing-masing, Rasti dipanggil bosnya lagi.
“Saya mau merekomendasikan kamu. Tetap jaga peforma,
tahun depan kamu pasti naik,” kata bosnya. Pak Affandi berlalu menuju kantornya
di lantai atas.
“Terima kasih, Pak!”
Hati Rasti melambung ke langit ke tujuh. Tapi, dia
teringat pembicaraannya dengan Junio beberapa tahun lalu. Bagaimana kalau dia
tiba-tiba hamil? Semua akan tertunda. Apa dia harus diam-diam di belakang Junio
mengonsumsi obat penunda kehamilan?
Dia menimbang-nimbang hal itu sepanjang perjalanan ke
ruangannya.
Junio masuk lagi ke dalam
rumah setelah menghidupkan mobil. Mereka akan pergi ke After Wedding Party yang diprakarsai Fiki. Di sana mereka akan
pesta semalaman bersama teman-teman, berbagi suka ria pengantin baru. Mungkin
agak terlambat, tapi pesta tetap saja menyenangkan. Junio sudah mengundang
teman-temannya—sebenarnya Fiki yang mengatur siapa yang bisa Junio undang
karena beberapa kenalan Junio tak pantas ada di pestanya—dan Rasti mengundang
para sahabatnya, teman kuliah, dan beberapa rekan kerja. Tak lupa Rasti
mengajak Rio dan Riana.
“Sayang sudah selesai?” tanya Junio saat masuk ke mobil.
Dilihatnya sang istri yang selalu cantik tampak semakin
mempesona. Dia menggnakan terusan bewarna hijau muda yang lembut, sepatu hak
tinggi, dan clucth bag berwarna hitam. Rambutnya dibiarkan
tergerai dengan sedikit kesan ikal di ujung-ujungnya. Junio mengucapkan
kekagumannya dengan tulus.
“Kamu kok cantik banget?”
“Kamu juga tampan.”
Rasti merangkul lengan Junio yang menggunakan kemeja
kasual warna khaki dan jeans hitam. Mereka menuju ke bar yang cukup jauh dari
rumah mereka.
Sesampainya di bar, mereka disambut Fiki. Sahabat Junio
itu memberitahu kalau nanti akan ada pertunjukan DJ dan di satu sesi mereka
berdua harus bernyanyi. Rasti menggeleng-gelengkan kepala menolak ajakan itu,
tapi Fiki dan Junio meyakinkan dirinya agar percaya diri saja. Seperti saat
pesta pernikahan mereka, kata Fiki.
Di dalam bar, suasana sudah menyenangkan. Setiap yang
datang bisa memesan minuman sebebasnya karena penyelenggara pesta yang
menanggung. Jadi, beban tagihan bukan masuk hitungan pertimbangan senang-senang
disini.
“Dan lo tahu siapa DJ yang gue undang?” tanya Fiki pada
Junio.
“Siapa?”
“Alice Norin!”
“Wow!! Emang dia DJ juga, bukannya pemain film atau
sinetron?” tanya Junio, pandangan tak lepas dari pemain DJ itu.
“Memang, tapi permainannya bagus kok. Udah sering main di
pesta seleb lain,” terang Fiki. Kemudian dia melambai pada sosok wanita yang
sedang asyik meramu musik. Alice yang semakin terkenal setelah membintangi film
religi beberapa tahun lalu, membalas lambaian Fiki.
“Musiknya memang asyik,” komentar Rasti.
Kemudian mereka berkeliling, menyapa siapa pun yang
hadir, berbasa-basi sedikit, dan mendapat ucapan selamat menempuh hidup baru. Rasti
memperkenalkan Junio pada lingkup sosialnya, dan Junio memperkanalkan istrinya pada teman dan
pelanggan setia Kieree. Kalau Rasti perhatikan teman Junio banyak pria yang
keren. Mereka sangat peduli dengan penampilan dan sepertinya semua dibeli di
toko tempat suaminya bekerja.
“Hai, Kak!” sapa Riana saat mereka berpapasan. Riana
datang bersama pacarnya. Rasti bertanya-tanya kapan mereka akan menikah? Mereka
memang selalu tampak kompak dan mesra.
Rasti menyapa pacar Riana. “Hai, Farhan. Seneng lihat kamu di sini. Kalian
makin mesra.”
“Kakak yang makin mesra. Dari tadi kami perhatiin kok.” Kemudian Riana
meminta agar dia dan Rasti berbicara empat mata.
“Gimana kalian setelah bulan madu. Masih tetap hangat?”
Rasti kagum sendiri melihat Riana yang perhatian dengan pernikahannya. “As you wish... Kamu benar, Mas Junio
tercipta untukku.”
“Syukur, deh. Aku cuma takut kalau-kalau sikapnya berubah setelah bulan
madu. Banyak cerita perempuan yang semakin merasakan cinta mereka meredup
setelah bulan madu. Aku pengen kakak jaga cinta itu.”
Kadang Rasti bertanya siapa yang adik dan siapa yang kakak. Memang, sejak
dulu Riana pemikirannya selalu lebih tua dari usianya.
“Doain aja. Kami sempat ngobrol tentang anak, tapi kurang sepakat. Kakak
mau semua terencana, tapi Junio enggak.”
“Saling mengerti aja, semua pasti ada jalan keluarnya...”
Rasti tahu itu, dia mengerti keinginan Junio agar punya anak tapi tak mau
membebani Rasti.
“Eh, kakak di panggil ke atas panggung tuh! Cepetan!” Riana mendorong
kakaknya yang cantik menuju panggung. Di
sana sudah berdiri Junio.
Rasti melihat Alice, artis DJ itu, mengucapkan selamat pada Junio dan
memberinya ciuman di pipi. Wajah Junio memerah.
Namun, wajah Rasti lebih memerah karena marah suaminya dirayu seperti
itu!!
***
Di lain tempat, di bar
yang lain, Andy duduk bersama beberapa temannya sesama artis pendatang baru. Mereka
tidak merayakan apa-apa. Mereka duduk dan minum-minuman keras untuk melupakan
masalah yang selalu mewarnai hidup. Tak tahu lagi harus mengadu ke mana, selain
membuat diri kehilangan kesadaran sampai lupa daratan. Mereka ingin hilang dari
dunia sesaat.
Andy sudah hampir mabuk, kesadarannya masih ada.
“Gue sebel banget sama asisten sutradara kita, si Halim. Sombong
banget ngomongin kita nggak becus akting!” cetus salah seorang teman Andy.
“Gue juga sebel!” kata yang lain.
Botol minuman digilir lagi. Menuang beberapa teguk lagi
pada gelas-gelas kaca.
“Pengen gue bunuh tu orang!”
Sepertinya semua sudah mabuk. Perkataan mereka hanya
ceracau tak jelas. Andy hanya diam mendengar itu semua. Dia mungkin tidak suka
pada Halim, tapi dia tak membencinya. Sudah seharusnya Andy dan teman-temannya
ini sadar bahwa tampang keren bukan jaminan sukses di dunia entertainment. Harus
ada talenta. Parahnya beberapa orang malas mengembangkan kemampuan akting
mereka. Mereka sudah merasa hebat, padahal belum apa-apa. Sinetron didominasi
sama artis sampah yang nggak bisa akting, oleh skenario asal jadi, dan
diproduseri para kapitalis. Lagipula, siapa yang menyangkal kalo televisi itu
tambang uang para konglomerat?
Sebenarnya mereka bisa pulang ke rumah, belajar akting
atau membaca buku tentang seni peran, daripada menghabiskan malam di bar ini. Mabuk-mabukan
jadi ikon remaja hedonis. Inikah sosok yang ingin jadi public figure? Mengurus diri sendiri saja tak bisa!
Coba seandainya masih ada pria itu, pikir Andy. Dia pasti
akan mendiskusikan hal ini berdua, bertukar pikiran dan dia kan memberi
semangat pada Andy untuk maju. Tak ada yang tak mungkin dicapai kalau kita
berusaha, kata-kata pria itu diingat Andy. Tapi kini mereka sudah berada di
jalan yang berbeda. Tak ada lagi ucapan semangat dari satu sama lain. Mereka
orang asing.
Bahkan saat Andy berkunjung ke tokonya, dia sedikit pun
tak memandang Andy. Padahal mereka dalam ruangan yang sama. Andy sangat kecewa
karena kesepakatan mereka untuk jadi teman hanya angin lalu. Dia dicampakkan. Kini
dia bukan siapa-siapa selain kutu pengganggu.
Padahal Andy tak akan mengganggu pasangan itu.
Dulu, pria itu selalu menyemangatinya setiap kali Andy
mengikuti audisi. Gagal pun tidak masalah bagi Andy karena ada yang akan
menenangkan hatinya.
Sekarang setelah dia memperolah peran—walaupun figuran—dia
ditinggalkan begitu saja. Tanpa ada tempat bersandar. Andy bingung menjalani
hidup ini.
Tak ada tempat bercerita lagi.
“Andy, lo sepakat nggak kita rame-rame bunuh si Halim?”
tanya teman di sebelahnya yang sudah mabuk berat.
Andy hanya menoleh pada orang itu. agak mual mencium bau
alkohol dari mulutnya. Dia muak ada di sini.
“Minggir, lo! Gue mau pulang!” bentak Andy.
“Hei! Jangan duluan dong, gue pulang sama siapa?” panggil
temannya.
“Mana gue tahu!” Andy terus berjalan. Diambilnya kunci
mobil dan pergi keluar bar.
Sendiri dia kembali ke rumah. Tak ada lagi tempatnya selain di rumah yang
tak menyenangkan itu. Orangtua yang tidak peduli hal lain selain materi, dan dia merasa anak
tunggal padahal punya kakak. Hanya saja kakaknya lebih berprestasi darinya. Parahnya,
dia juga merasa jadi anak pungut.
0 comments:
Post a Comment