Rasti terlambat datang
bulan, padahal biasanya selalu tepat waktu. Kali ini sudah tiga hari dia tidak
menstruasi. Dia memberitahu Junio dan suaminya mengantarkan Rasti ke apotik
untuk membeli alat tes kehamilan.
Namun, kebahagiaan itu sedikit berkurang saat dia melihat
hasil alat itu. Jika seseorang hamil, akan ada dua garis yang tampak jelas,
sedangkan punya Rasti hanya satu yang jelas dan yang lain buram.
“Apa aku nggak hamil, Mas?” tanya Rasti menunjukkan pada
Junio hasil tes. “Mungkin ini terlambat sebentar, nanti bakal mens lagi.”
“Sabar aja dulu, Sayang,” kata Junio membelai pipi
istrinya.
“Barangkali Tuhan mengujiku lagi. Dulu nggak mau anak,
sekarang menanti-nantikan. Dia sebal kali sama orang plin-plan.”
Junio tertawa mendengar keluh kesah istrinya. Ekspresi Rasti
marah selalu membuatnya tertawa.
“Malah tertawa! Aku serius, nih!”
“Coba kita cari tahu di internet, siapa tahu ada jawaban
kebingungan ini,” ajak Junio. Dia mengambil laptop, menghidupkannya, kemudian
menyalakan koneksi internet. Dengan cepat diketiknya kata kunci pada search engine Google. Begitu banyak
pilihan, kemudian dikliknya pada salah satu blog kesehatan.
Tertulis di sana agar mereka membeli tes kehamilan jenis
Hcg+ yang lebih akurat hasilnya. Alat ini bukan memberi indikator dua garis,
namun lambang positif (+) atau negatif (-). Untung ada internet, Rasti jadi
bisa mengembalikan mood baiknya.
Aku akan hamil, batin Rasti. Junio akan bahagia.
Sayangnya, hasil tes lagi-lagi mengatakan Rasti negatif
hamil.
Junio memeluk istrinya yang menangis. “Tenang, kita pasti bakal punya
anak.”
Sepanjang malam, Rasti menelpon mamanya. Dia curhat segala hal tentang
hamil, melahirkan, sampai mengasuh anak.
“Mama memberi kamu ASI eksklusif hingga dua tahun, nggak mau tuh pakai
susu formula. Katanya biar anak pintar, padahal hanya ASI pun membuat pintar
dan badan bayi lebih sehat.”
“Ma..., Rasti kecewa banget tiap kali hasilnya negatif. Padahal udah
beberapa hari terlambat mens.”
“Coba tunggu sekitar tiga hari lagi, Sayang. Terus kamu tes lagi. Oke. Sekarang
jaga saja kesehatan, banyakin makan yang bergizi. Jangan sampai tubuhmu terlalu
lelah karena kerja. Pikiran pun
mempengauhi. Jadi, Biasakan selalu berfikir positif.”
Rasti mengiyakan. Kemudian dia kembali melihat alat tes
kehamilannya. Masih negatif. Andaikan yang tertera di sana adalah positif, jadi
dia bisa berfikir positif.
Riana datang berkunjung
ke rumah Rasti. Membuat kakaknya senang bukan main. Dia memang butuh sahabat
wanita yang bisa saling mengerti. Rasti menceritakan dia belum hamil, padahal
tanda-tanda sudah ada. Rasti makan lebih banyak, mual-mual saat mencium bau
menyengat, dan kakinya sangat cepat letih.
“Sabar aja, Kak. Suatu saat kita semua bakal menyambut
kelahiran seorang bayi mungil.” Lalu dia mengambil sebuah Tupperware dari dalam tasnya. “Mama nitip ini buat kakak.
“Apa ini?”
“Black forest.
Mama lagi kepengen bikin terus di bagi-bagikan.”
Mata Rasti melihat ke luar, mencari sosok seseorang. Karena
tak ada, dia bertanya pada Riana.
“Kamu nggak bareng pacarmu?”
Riana menggeleng. “Kami lagi marahan.”
Rasti menanyakan alasannya. Tumben sekali pasangan ini bertengkar.
“Aku sebal sama sikapnya yang kenakak-kanakan. Akhir-akhir ini malah
menjadi-jadi, Kak.”
Rasti tersenyum. Begitulah kalau hubungan pacaran, jika
sedang marahan bisa pergi kemana sesuka hati padahal masalah masih ada di sana
belum terselesaikan. Jika sudah menikah, mau tak mau masalah harus diselesaikan
secepatnya. Tak bisa pura-pura salah satu tidak ada di rumah.
“Sabar aja. Laki-laki memang kadang bikin kita kayak
pengasuh,” kata Rasti sambil teringat pada pacar-pacarnya dulu.
Lagipula Rasti heran, biasanya Riana dan pacarnya selalu
seiya-sekata.
“Sekarang pikirannya berubah jadi nggak mau nikah dalam
waktu dekat.” Riana memutuskan untuk mengatakan hal yang sebenarnya. “Plin-plan
atau penakut? Kalau Kakak tahu, kami punya buku catatan sendiri yang berisi
rencana jika kami menikah. Malu rasanya kalau baca lagi, kayaknya nggak bakal
terjadi.”
Rasti membelai lembut punggung Riana. “Kalian mungkin
memang perlu waktu untuk berpisah sebentar dan merenungkan lagi semuanya.”
Riana mengangguk. Bibirnya yang dari tadi tertekuk
sekarang mengulas senyuman.
“Sebenarnya, aku ada satu permintaan, Kak,” kata Riana. “Bukan
tentang pacarku sih, tapi ada temanku, Laura, yang punya saudara sepupu bernama
Hani. Katanya si Hani ini nggak suka sosialisasi sama siapa pun. Jadi, temanku
minta aku mau jadi teman si Hani. Sekalian ajarin dia gimana bersikap “normal”.
Katanya lagi, si Hani suka ngomong kasar.”
“Trus, kamu minta apa sama Kakak?”
“Temani aku, aku perlu lebih banyak orang. Sebenarnya
pacarku yang akan ikut, tapi tahu sendiri dia nggak bakal mau.”
“Oke, nggak masalah, kok. Kapan waktunya?”
Riana memberitahu tempat dan waktu pertemuan. Di hari itu
Rasti memang tidak bekerja, jadi dia akan pergi. Riana mengucapkan terima
kasih.
“Wah makanmu banyak, Ras,”
komentar Junio melihat Rasti menambahkan nasi di piringnya.
“Nggak tahu juga, nih. Belum kenyang.”
Junio tersenyum. “Jangan-jangan perutmu sudah ada isinya?”
tanya Junio. Dia tak bisa menyamarkan rasa gembiranya.
Rasti mengingat-ingat, sudah tiga hari berlalu dari hari
dia mengetes kehamilannya. Kemaren dia memang sempat datang bulan lagi, tapi
sangat sedikit. Jadi dia mengabaikan tanda-tanda kehamilan apapun. Sekarang dia
telat lagi dan nafsu makanya melonjak drastis. Rasti meminta Junio untuk
membelikan lagi alat tes kehamilan.
Pagi itu, Junio dengan sabar menunggu istrinya yang ada
di dalam kamar mandi bersama alat tes kehamilan. Detik demi detik tak henti
mengalir, tapi Rasti begitu lama. Apa hasilnya negatif lagi?
Junio mengetuk pintu kamar mandi. Tak ada jawaban. Dia
mengetuk lebih keras. Ketukannya menyiratkan ketergesaan bercampur khawatir.
“Rasti!” Berkali-kali dia memanggil istrinya.
Kemudian wajah Rasti muncul, kepalanya tertunduk. Junio
meraih bahu Rasti dan memeluknya. Biarlah jika mereka belum direstui Tuhan
untuk memiliki anak.
“Maafin aku, Mas...”
Junio mengecup puncak kepala Rasti, kemudian mengelus
punggungnya. “Nggak usah minta maaf. Ini bukan kesalahan siapa-siapa.”
Rasti tetap tertunduk, “Mas, maaf kalau aku harus membagi
perhatianku pada orang lain mulai saat ini.”
“Eh?” Hanya itu suara yang terdengar dari Junio. Dahinya
berkerut.
“Karena aku mesti merhatiin kandunganku juga!”
Mulut Junio langsung menganga. Dia menggeleng tak
percaya.
Rasti mengangguk sekaligus tertawa telah berhasil membuat
Junio terkejut. “Aku hamil, Mas! Akhirnya!”
Junio memeluk istrinya erat. “Terima kasih, Sayang...”
Air mata mereka mengalir, namun ini adalah air mata
kebahagiaan.
“Apa kamu ingin anak laki-laki atau perempuan?” tanya
Rasti.
Junio menggeleng. “Jangan. Jangan pernah meminta jika
kita bukan penentunya. Suatu saat kita kan kecewa bila tahu apa yang diminta
tidak terkabul. Anak kita yang akan menyesali nantinya.”
“Kalau begitu aku menyerahkan jenis kelaminnya pada
Tuhan,” ucap Rasti.
“Laki-laki atau perempuan sama saja, kan?”
Mama Rasti kali ini yang
berkunjung ke rumah mereka. Beliau sangat gembira mendengar kabar bahagia itu. Bayi
yang dinantikan, memberi warna pada keluarga. Setiap saat mama Rasti memberi
nasihat pada Rasti agar menjaga kandungannya tetap sehat.
“Perbanyak minum air, Ras. Wanita hamil rentan dehidrasi
dan sembelit. Hindari makanan yang berminyak dan bersantan apalagi kalo
lemaknya dari daging,” kata mama Rasti panjang lebar.
“Ya, Ma.”
“Anak akan terpengauh pada apa yang ibunya pikirkan. Selalu
bepikir positif.”
“Baik, Ma.”
“Kamu juga bisa beri dia musik yang katanya bisa membantu
perkembangan janin.”
“Tenang saja, Ma. Aku bisa beli buku tentang kehamilan
yang lengkap. Aku akan pelajari semua.”
“Tentu saja, anakku. Kamu pasti akan lahirkan anak yang
tampan... atau cantik. Jadi kalian mau laki-laki atau perempuan?”
Rasti mengulang jawaban yang sama dengan Junio. “Apa pun
kami akan terima.”
Mama Rasti memeluk anaknya gemas. Dia bahagia.
Rasti merasakan perubahan
dalam tubuhnya. Sepanjang hari dia mengamati apa saja yang beda hari demi hari.
Bagian bawah perutnya terkadang nyeri. Selain itu Rasti sering mual jika
mencium wangi parfum Junio.
“Apa aku perlu ganti parfum?” tanya Junio.
Berdua mereka pergi ke toko parfum membeli paket yang tidak terlalu
menyengat.
Setiap pagi Rasti diserang morning sickness, kalau sudah terdengar suaranya dari kamar mandi,
Junio akan mengambilkan air minum. Junio berkeras dia yang akan mengambilkan
apa yang diperlukan Rasti selagi dia ada di rumah, walau Rasti bisa melakukan
sendiri.
Rasti merasakan kebahagiaan lebih dari yang dikiranya. Junio
sangat mencintainya, dan dia tanpa ragu juga mencintai pria itu.
Disela-sela persiapan pagelaran dua minggu lagi, Junio
menyempatkan menemani Rasti membeli pakaian-pakaian longgar. Mereka berbelanja
di mal yang sama tempat Kieree berada. Setelah berbelanja mereka pergi ke
kantor Junio. Selagi menunggu telpon dari Riana untuk bertemu.
Kesempatan kali pertama bagi Rasti berada di sana.
“Semua karyawan di sini ramah, ya?” komentar Rasti.
“Tentu, aku selalu menekankan pada mereka unuk selalu tersenyum,
menghargai pembeli dan selalu peduli.”
“Siapa dulu bos-nya.”
Rasti kemudian mengobrol dengan beberapa karyawan di sana
selagi Junio bekerja. Para karyawan sangat senang akhirnya bisa mengenal istri
atasan mereka.
Ponsel Rasti berdering, dilihatnya layar, Adiknya
menelpon.
“Kak, kami udah di restoran lantai dua,” kata Riana
memberitahu. “Cepat ke sini ya!”
“Oke, Na. Apa perlu aku ajak Junio?” kata Rasti sambil
melirik suaminya yang sedang duduk di meja kerja dan mengetik.
“Mas Junio nggak sibuk?” Riana ingin agar yang datang
lebih banyak, tapi Junio pasti sibuk.
“Aku tanyain dulu.” Rasti berjalan menuju tempat
suaminya. “Mas, Riana ngajak ketemu sama temannya yang anti sosial itu. mau
ikut? Biar ramai.”
Junio mengalihkan wajahnya dari laptop. “Kamu duluan aja,
Ras. Ini sedikit lagi selesai.”
“Oke. Aku ke lantai dua ya, restoran yang dekat toko kita
lihat mainan bayi tadi. “
Junio mengangguk, kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Setiap wanita pasti
menginginkan rambut lurus, halus dan hitam bersinar yang dimiliki Hani. Hanya
rambutnya, selain itu tidak. Hani mempunyai kulit yang sangat pucat seakan-akan
ini kali pertama dia keluar ruangan. Kulit itu cocok dimiliki orang eskimo yang
selalu kedinginan. Rasti teringat dengan sebuah film tentang vampir, dimana
seluruh vampir memiliki kulit yang super pucat. Apa Hani tahan dengan sinar
matahari?
Matanya bergaya smoky
eyes, tapi Rasti yakin itu karena Hani tidak pernah tidur yang cukup.
Tubuhnya kurus, seperti hanya kulit yang membalut tulang, bukan daging. Pakaian
malah sangat kontras: semuanya hitam, pantas saja hidupnya suram. Pada tubuh
sendiri pun tidak menghargai.
Pikiran itu dibuangnya jauh-jauh, dia sedang hamil, tak
baik membicarakan fisik orang lain. Nanti nular ke janin. “Amit-amit jabang bayi,” ucapnya dalam hati.
Suasana memang terlalu tenang untuk sebuah acara
kumpul-kumpul. Rasti jadi tidak nyaman sendiri. Diliriknya sang adik yang juga
tidak tahu harus berbuat apa. Riana menatap temannya, Laura, yang ternyata tak
jauh beda pendiamnya.
“Kamu masih kuliah, Han?” Akhirnya Rasti yang mengambil
alih keadaan. Sebagai yang paling tua di
sana, dia merasa Riana dan Laura sangat membutuhkan bantuannya.
Hani hanya menatap Rasti tajam, membuat wanita hamil ini
tak nyaman.
“Udah. Umur gue udah dua lima. Udah dari dulu gue kuliah.
Udah tamat!”
Rasanya cewek ini tidak perlu berbicara sekeras itu.
telinga Rasti masih berfungsi dengan baik, kok.
Sejenak kembali diam. Hanya lingkungan mereka yang ribut.
Rasti mencoba membicarakan hal lain, kalau menanyakan
pekerjaannya apa sepertinya Hani pengangguran. Mungkin Hani seorang programmer atau penulis yang kerjanya
bisa dalam ruangan, tanpa berhubungan dengan orang selain lewat email dan internet?
“Kerja apa, han?” Tak ada salahnya mencoba pertanyaan
ini, pikir Rasti.
“Penulis.”
Dugaan Rasti tepat. Hani seorang penulis. Sekarang dia
hanya perlu mengembangkan obrolan ini biar lebih hidup. Kebetulan pula Rasti
sangat menyukai mmbaca. Membaca adalah cara untuk mengetahui banyak hal tanpa
perlu ke sekolah. Rasti juga mengagumi pekerjaan penulis.
“Benarkah? Aku suka membaca. Kamu nulis apa?”
Sepertinya Hani senang ditanya tentang apa yang dia
tulis. Intonasi bicaranya berubah jadi lebih sopan. Laura dan Riana tidak
menyangka.
“Gue nulis tentang kehidupan ini. Kehidupan yang manusia
jalani.”
“Interesting,”
kata Rasti sambil memberikan perhatian penuh pada ucapan Hani. Tubuhnya sedikit
condong dan kepalanya mengangguk-angguk.
“Gue nulis tentang kematian.... Orang-orang merasa mereka
hanya hidup sekarang. Cuek sama kematian yang lebih dekat dengan kita.”
Lagi-lagi Rasti mengangguk.
“Gue juga menulis
tentang bunuh diri. Beberapa cerpen gue tentang bunuh diri banyak dibeli online
oleh orang-orang.”
Tentu saja, pikir Rasti, tak mungkin ada penerbit yang
menerbitkan buku menyesatkan seperti itu. Kalau pun ada pasti sudah dibekukan
pemerintah.
“Lo mau baca?” Hani menawarkan.
Rasti tak yakin cerpen-cerpen Hani baik untuk kesehatan
ibu dan calon bayi.
“Boleh. Aku senang banget. Gratis, kan?”
Hani mengambil ponsel Rasti yang terletak di atas meja
begitu saja tanpa basa basi. Dia mengetik sesuatu.
“Ini email gue.
Tinggal lo kirim email kosong biar langsung subcribe
dan dapat satu cerpen gratis. Cerpen yang lainnya bisa dibeli. Ada informasi
harganya, kok.”
Tak ada yang gratis, termasuk “penyesatan diri” yang
ditulis Hani. Rasti hanya tersenyum. “Terima kasih, ya!”
Akhirnya pesanan mereka datang.
“Kita makan dulu, yuk!” ajak Laura. Sepertinya Laura tak
jauh berbeda dengan Hani, hanya lebih sering bersosialisasi. Apa keluarga
mereka memang vampir berkulit pucat?
Rasti tersenyum karena pikirannya sendiri.
“Kamu udah punya pacar, Hani?” tanya Rasti, tidak suka
jika mereka hanya diam.
“Nggak ada sejak tahun dua kuliah.”
“Kenapa tuh?”
“Ngapain nanya-nanya?!” teriak Hani. Ups, Rasti keliru
mengajukan pertanyaan.
“Kasih tahu aja, Han. Kalau perlu bilang kemampuan yang
kamu bangga-banggakan itu,” sahut Laura.
Rasti penasaran, begitu juga Riana. “Kemampuan apa?”
“Gue punya gay
radar,” jawab Hani pelan, seperti takut orang lain mendengar.
Rasti dan Riana hanya tersenyum tidak mengerti. Mereka
memang tahu kalau di Jakarta sudah banyak orang-orang homoseksual. Mereka hanya
tak mengerti istilah-istilah yang sangat asing itu.
“Biasanya cuma cowok gay
saja yang punya. Gay radar itu kayak
sensor yang bikin seorang gay tahu
apakah orang disekitarnya gay ato
nggak.”
Rasti mengerutkan kening, membuat Hani perlu menjelaskan
lebih banyak.
“Cowok gay bisa
tahu seseorang sama kayak dia hanya lihat dari gaya berpakaian, sikap, atau
gaya bicara. Sesimpel itu.”
“Kalau cuma cowok gay
yang punya, kamu kok bisa?” tanya Riana.
“Karena mantan alias pacar terakhir gue ternyata gay!” Tiba-tiba Hani memukul meja. Sepertinya
dia teringat sebuah kenangan buruk. “Aku ditinggalin gara-gara cowok lain. Padahal
ia cinta mati gue selamanya!!”
Tak berapa lama emosinya kembali normal. Hani melanjutkan
makan. “Jadi gue pelajari semua tentang gay.
Gue mulai ikutan milis komunitas fag hag
dan...”
Rasti tak tahu istlilah aneh itu lagi. Fag...—apa?
“Fag hag itu
cewek yang punya temen gay atau cewek
yang punya interest terhadap cowok gay. Tapi para cewek ini heteroseksual,”
terang Hani sekarang santai, mungkin merasa dirinya lebih banyak tahu daripada
orang lain membangkitkan rasa percaya dirinya.
Rasti geleng-geleng kepala. Dunia semakin aneh saja. Masa
ada wanita yang naksir cowok gay
padahal jelas-jelas cowok itu akan menepis uluran cinta mereka. Cinta? Sepertinya
bukan, itu hanya masalah seksual, kebutuhan primitif manusia.
“Jadi, gue udah expert
buat nebak seorang cowok gimana. Udah banyak buktinya. Ya, kan Lau?” Hani melirik
ke sepupunya.
Laura mengangguk enggan.
“Mau gue coba?” tanya Hani kemudian. “Nah, cowok yang
baru masuk ke restoran itu pasti gay.
Gaya pakaian dan jalannya yang buktikan.”
Rasti dan Riana langsung menoleh ke belakang punggung
mereka. Mereka memang duduk membelakangi pintu masuk. Saat mereka tahu siapa
yang dimaksud Hani, mereka terkaget.
Rasti ingin tak mempercayainya sedikit pun. Hani pasti
hanya menebak saja. Untuk apa mempercayai orang yang menulis tentang bunuh
diri?
“Nggak mungkin,” bisik Riana sambil meraih bahu kakaknya.
Rasti tertawa. “Pastilah nggak mungkin. Dia udah menikah
kok, Han.”
“Gay emang bisa
nikah buat menyembunyikan jati dirinya. Lagian, darimana lo tahu dia udah
nikah?”
Rasti mengatakan kalau pria itu adalah suaminya, Junio. Sayangnya
ekspresi wajah Hani bagai tak bersalah sama sekali. Coba kalau tidak di depan
umum, Rasti akan menampar Hani seperti dia menampar selingkuhan Dani dulu.
Junio mendekati meja mereka, karena tak ada kursi lagi di
meja mereka seorang pelayan dengan sigap memberikan kursi ektra. “Terima kasih!”
kata Junio ceria. Kemudian, Junio menyapa semua yang duduk di sana. Tidak lupa
dia mencium pipi Rasti.
Rasti hanya bisa diam. Sudah tak selera lagi makan maupun
berbincang dengan manusia anti sosial ini. Sudah cukup.
Hani mengedarkan pandangan ke sekeliling, kecuali ke
Junio.
“Mas Junio, perutku agak sakit, nih,” kata Rasti. Tanganya
menyentuh perut, padahal dia hanya berpura-pura. “Bisa antar aku pulang?”
Junio tak mempertanyakannya. Dia langsung bangkit dan
menuntun istrinya. Beberapa mata di sekitar mereka memandang dengan iri saat
Rasti diperlakukan begitu rupa. Sangat romantis, Junio sangat jantan.
Namun, satu suara menyebutkan kata yang Rasti benci. “Dasar
gay! Pintar akting!”
Untung saja Junio tidak mendengar. Rasti ingin
cepat-cepat pergi dari sana. Sedikit pun tak ingin melihat wajah Hani lagi.
“Halo..., ada apa sih, Sayang?
Earth’s call for Mrs. Adihastoro...?”
Rasti tersentak dari lamunannya. Perasaan dia tadi ingin
mengambil selendang untuk dipakai melengkapi gaun terusan biru lautnya. Kenapa
dia malah terdiam di depan pintu seperti ini?
Oh, ya, Rasti tadi mengamati gerak gerik Junio tanpa
sadar. Semua hal yang bisa memberinya alasan bahwa semua baik-baik saja, Junio
adalah suami yang sempurna, eh—mendekati sempurna, dan perkataan Hani adalah
omong kosong belaka.
Riana menelpon malam hari setelah pertemuan itu. Dia mewakili
Laura untuk meminta maaf. Seharusnya bukan Laura, pikir Rasti, si penulis sesat
itu yang harus minta maaf.
Sampai tiga hari berlalu, Rasti masih terpengaruh dengan
ucapan sepupu Laura itu. Apa karena dia hamil makanya makin sensitif? Orang
hamil memang memiliki beberapa hormon yang bisa mempengaruhi suasana hati.
“Sayang?” Junio memanggilnya lagi. Sekarang dengan
memberi rasti sebuah kecupan.
“Aku mau ngambil selendang.”
Junio mengabaikan perubahan suasana hati Rasti. Mungkin
pengaruh hamil, pikirnya.
Rasti melewati Junio dengan kaku. Sebenarnya Junio ingin
Rasti meminta bantuannya.
“Aku tunggu di mobil, ya?” kata Junio akhirnya
Rasti hanya mengangguk.
Gedung itu dipenuhi oleh
orang-orang, selebriti, wartawan majalah dan reporter televisi lifestyle, serta para tamu undangan. Jalur
red carpet jadi ajang foto-foto para
selebritis oleh fotografer dan kameramen.
Seorang dari event
organizer menyambut Junio dan Rasti, dan menuntun mereka melewati red carpet. Kontan, hal yang sangat baru
bagi mereka, beberapa kamera berkilat memotret. Mungkin sudah ada yang
memberitahu kalau Junio adalah ketua pelaksana acara ini.
Saat lepas dari sensasi menjadi selebriti, Junio
didatangi beberapa wartawan yang bertanya seputar acara dan persiapannya. Rasti
menempatkan diri menjadi istri yang baik dan santun. Lalu, dia melihat Fiki
yang melambai pada mereka.
“Mas, kakiku capek. Boleh aku duduk ditemani Fiki saja?”
bisik Rasti di telinga suaminya.
“Maaf sebenatar, ya?” pamit Junio pada wartawan di
depannya. Junio mengangguk pada Rasti. “Wawancara ini sepertinya akan sedikit
lama. Duduklah”
Rasti berjalan menuju Fiki. Sahabat Junio itu
menyambutnya dengan senyum lebar.
“I heard that you’re
going to have a baby!!”
Rasti tertawa melihat Fiki yang cuek saja bicara sekeras
itu. “Yes. You’ll be the uncle.”
“Bayi kalian bisa panggil aku Uncle V,
atau Paman Fiki.”
Rasti tertawa. “Pilihan pertama lucu, jadi yang itu saja.”
Mereka memilih tempat duduk yang telah disediakan. Saat
Rasti sudah nyaman duduk di sana, dia melihat seorang pria yang menatap tajam
padanya. Rasti tidak kenal orang itu, tapi terang-terangan menantang mata
Rasti. Ingin Rasti mendekati orang itu, tapi sekejap saja sosok itu menghilang.
Rasti mengabaikan saja. Mungkin mata orang itu memang
sangat menusuk dan membuat orang tidak nyaman.
Panggung fashion
show malam itu bertemakan futuristik dengan dominasi warna silver. Sebuah tiruan UFO,
planet-planet, dan bintang menjadi hiasan di langit-langit.
“Junio pasti senang banget pas denger kamu hamil.” Fiki
duduk di sebelah Rasti setelah membantu wanita itu duduk.
“Dia sampai nangis saking bahagianya.”
Rasti mengamati gerak-gerik Fiki. Dia bertanya-tanya
dalam hati apakah Fiki juga termasuk gay?
Rasti sempat searching
di internet mengenai tanda-tanda seorang gay
atau tidak. Ternyata tidak telalu sulit, tapi kita bisa tertukar menuduh orang
metroseksual. Soalnya, seorang gay
itu selalu menjaga penampilan serapi dan sewangi mungkin. Aneh memang, bukankah
penampilan itu sangat penting bagi orang zaman sekarang? Kemudian, mereka tak suka
olah raga bola. Junio memang tidak suka bola tapi tak masalah baginya jika
menonton berita tentang itu. Hal yang lain, mereka sensitif.... Junio
sangat-sangat sensitif. Dia penuh cinta malahan.
Satu bagian dari hipotalamus yang disebut sebagai nucleus suprachiasmatic (SCN) dua kali lebih besar di dalam diri
laki-laki homoseksual daripada di dalam diri leaki-laki normal.
Sudahlah! Memangnya kenapa kalau ternyata Junio adalah gay? Bukankah gay itu bisa diubah kembali ke jalan yang seharusnya? Asal Junio tidak
mencari selingkuhan di luar sana, Rasti tetap mencintai suaminya.
Namun, dalam hati kecilnya, Rasti tak ingin ada rahasia
di antara mereka. Tunggu... rahasia? Sekarang Rasti menuduh Junio berahasia,
buktinya apa?
Acara dimulai dengan penampilan dari penyanyi Marcell
Siahaan, membuat Rasti teringat saat Junio menyanyikan sebuah lagu di
pernikahan mereka. Dia juga mengidolakan pria ini karena suaranya yang sangat
bagus.
Rasti melihat Junio duduk di depan dengan para bos Kieree
dari Indonesia dan Italia. Mereka tak bisa duduk berdampingan, tapi Rasti
senang setiap kali Junio menoleh ke belakang dan melambai padanya. Tak masalah
bagi Rasti, ada Fiki yang menemaninya.
Pagelaran busana dimulai dengan menampilkan
pakaian-pakaian ala geek—semua
modelnya finalis ajang pemilihan di majalah—dilanjutkan dengan pakaian kantor
oleh para model profesional.
“Busana pria yang geek
lucu-lucu dan manis, ya?” komentar Rasti pada Fiki. Dia membayangkan suaminya
yang gagah menggunakan salah satu kemeja warna kuning dengan celana sempit
setinggi betis. Junio memang berkacamata, jadi mendekati geek, tapi bagi Rasti suaminya adalah sweetheart geek. Rasti tersenyum sendiri.
Anehnya Junio tampak tidak fokus melihat ke catwalk. Dia sibuk dengan ponselnya. Mengetik
sms entah untuk siapa. Rasti tidak terlalu memperhatikan, tapi Fiki iya.
Wajah Junio pucat, matanya membesar, dan tubuhnya
gelisah.
Lalu, Junio minta izin ke belakang pada para bos besar. Dia
bergegas pergi. Namun, dia tidak ke toilet, langkahnya ke arah lift menuju
lantai paling atas.
Dia harus menemui seseorang... bukan., dia harus mencegah
seseorang agar tidak bunuh diri.
“Terjun dari atap sebuah itu tindakan bodoh!”
Setiap detik yang melaju telalu bergerak lambat bagi
Junio. Kenapa lift ini lama sekali?
Saat lift sudah berada di lantai puncak, Junio langsung
menuju ke atap gedung. Anging kencang menerpanya. Dia cukup kesulitan mecari
sosok seseorang.
Rupanya orang itu memperhatikan Junio datang, membuatnya
tersenyum.
***
Andy melihat orang yang
ditunggunya muncul. Pria berkacamata itu... betapa dirinya sangat rindu. Betapa
rasa sakit yang dia pendam selama ini serupa tumor yang mengganas. Kini, akal
sehatnya tak bisa berfungsi lagi. Tak ada yang bisa membuatnya kembal ke
kondisi semula.
Semua karena perbuatan pria ini yang telah
meninggalkannya.
“Gue kira lo nggak peduli lagi, Junio...”
Andy tetap berdiri di tepi atap gedung selagi Junio
berjalan mendekati, tapi Junio berhenti sekitar dua meter darinya.
Membuat Andy merasa dirinya tak berharga lagi untuk didekati.
“Junio...” katanya
sangat pelan.
Junio mengulurkan tangannya. “Cepat turun ke bawah, Andy.
Jangan bermain-main dengan nyawamu sendiri. Kita udah nggak anak kecil lagi.”
Andy tertawa. “Gue jadi gini karena lo tahu, nggak?!!”
Junio hanya diam. Lengannya turun, terpaku di sisi
tubuhnya. Tangan terkepal seperti meremas sesuatu agar musnah. Dia tak sanggup
menatap Andy.
“Kok lo bisa tega banget ninggalin gue, Jun?” teriak Andy
pada udara malam. Sesaat suaranya seperti ditelan angin yang kencang. “Padahal...
kita udah janji bakal bersama selamanya.”
Junio masih terdiam, tanpa sadar matanya sudah
berkaca-kaca.
“Gue butuh lo, biar gue tahu arah hidup yang nggak jelas
ini! Tapi lo malah pergi! Pengecut lo!” maki Andy. Telunjuknya menuju Junio.
“Kita udah bicarakan ini, kan, Andy?”
Andy menggeleng. “Tapi lo khianati kata-kata lo sendiri.
Lo bilang bakalan nganggap gue teman juga, tapi lo malah nggak mau tahu lagi. Lo
ganti nomor telpon, larang gue ke rumah atau ke kantor lo... gue dikira nggak ada
pas di toko. Bahkan lo nggak ngasi gue kesempatan buat jadi model acara bangsat
lo!”
“Ini untuk kebaikan kita....”
“Munafik! Nggak ada
yang baik di kehidupan gue gara-gara lo!”
Junio mulai menatap mata Andy. Jika ada sesuatu yang
salah dalam kehidupan kita, tidak ada yang bisa disalahkan selain diri sendiri.
Orang lain tetap dengan kehidupan mereka. Bukan berarti harus menyalahkan diri,
hanya jangan menumpahkan kesalahan pada orang lain.
Junio tahu Andy tak akan menerima nasihatnya.
“Lo udah lupain semua kenangan kita...”
Andy menangis, semakin lama suaranya semakin keras. Badannya
tidak tegak sempurna lagi. Junio takut jika Andy terjatuh ke bawah.
Kalau saja Andy tahu bahwa setiap hari selalu saja Junio
merasa melihat wajahnya. Di saat malam pertamanya dengan Rasti, Junio teingat
Andy. Saat makan siang di restoran dengan Rasti, Junio melihat sosok Andy.
Walau pun ini cinta, pikir Junio, tak ada yang perlu di
lanjutkan. Cinta ini terlalu salah.
“Andy, ayo turun dari sana. Kita bisa bicarakan ini pakai
cara yang lebih baik,” ajak Junio, kembali mengulurkan tangannya.
Tubuh Andy limbung seketika, bergegas Junio berlari ke
arahnya. Dengan sigap Junio menangkap tubuh itu sebelum benar-benar terjatuh
dari gedung.
Andy menangis terisak-isak dalam pelukan Junio. Dia
membalas pelukan itu. sesuatu yang sangat dibutuhkannya setelah sekian lama.
Junio menjadi tidak nyaman, dia melepaskan pelukan
mereka.
Raut wajah Andy berubah kaget dan kecewa. Dia tak
menyangka sama sekali. Namun, dia tak mau menyerah. Dia mendekati Junio,
mengulurkan tangan menyentuh pipi pria itu.
Juno terpengaruh sentuhan iu, dia menikmati. Matanya
terpejam. Lalu dia merasakan tubuhnya dan tubuh Andy semakin dekat tanpa ada
batas lagi.
Andy mengambil kesempatan ini sekuatnya... dia hendak
mencium Junio...
Pintu menuju atap kembali terkuak. Seseorang masuk dengan
nafas yang terengah. Dia sangat kaget melihat apa yangterjadi di depannya.
“Junio!”
Seketika Junio tersadar. Dilihatnya Fiki berdiri di dekat
pintu.”Fiki...”
Fiki berjalan ke arah mereka, mencoba melepaskan Junio
dari tangan Andy.
“Andy, sebaiknya lo pergi,” kata Fiki.
Wajah Andy kembali mendung, dia menatap Junio, tapi Junio
hanya menoleh ke tampat selain ke mata Andy. Andy menghentakkan kaki kanannya
ke lantai. Ingin dia meninju Fiki.
“Ini urusan gue sama Junio. Lo nggak perlu ikut campur.”
Fiki membantu Junio berdiri tegak, dilihatnya sahabatnya
itu sudah termakan emosi. Junio menangis.
“Acara ini penting buat karir Junio. Lo nggak mau hidup
dia hancur gara-gara kelakuan lo, kan?”
Andy hanya mendesis, “Dia yang duluan membuat hidup gue
hancur...”
“Gue udah minta satpam buat naik ke sini. Lo bisa milih,
turun sendiri atau dibanu para satapam yang mungkin pakai kekerasan.” Fiki
mengarahkan tangannya ke pintu.
Andy menimbang-nimbang, akhirnya dia memilih pergi dari
sini sendiri. Sebelum dia menghilang ke balik pintu, Andy kembali menatap
Junio. Kali ini Junio membalasnya dengan tatapan yang sendu. Mulut Junio
mengucapkan maaf tanpa suara.
“Sekarang, lo cuci muka Jun. Siap-siap untuk duduk lagi
di depan panggung. Bos lo pasti nungguin.”
Junio hanya mengangguk. Fiki menntunnya ke bawah lagi.
Wajahnya
bisa dibersihkan, tapi hatinya belum.
0 comments:
Post a Comment